Bisa Ngapain di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma?

Bisa ngapain di Halim Perdanakusuma? Naik pesawat komersil.

Ish, ngga hanya itu… kita juga bisa berkeliling area Lapangan Udara Halim Perdanakusuma yang lain (selain area penerbangan komersil).

Umumnya, “wisatawan” yang datang ke sini adalah anak-anak sekolah yang sekolahnya mengadakan wisata edukasi. Namun sebetulnya bisa juga orang dewasa membentuk satu grup dan berkeliling di Lanud Halim Perdanakusuma. Seperti saya yang kali itu ikut tur sejarah yang diadakan oleh Sahabat Museum (Batmus).

Kira-kira sejak 2010 saya sering join trip-nya Batmus. Serunya, trip ngga sekedar foto selfie yang menandakan “I was here” saja, namun sekaligus mengundang narasumber yang kompeten.

Kali itu narsum yang ikut bersama rombongan saya adalah Pak Hoesein Rushdy. Diusia beliau yang tidak lagi muda, beliau tetap memiliki semangat yang berapi-api saat menjelaskan sejarah Lanud Halim perdanakusuma

Lapangan Udara Halim Perdanakusuma dulunya merupakan tanah partikelir yang dimiliki oleh Pieter van der Velde yang kemudian sekitar tahun 1924 dijadikan sebuah lapangan terbang pertama di kota Batavia dan diberi nama Vliegveld Tjililitan (Lapangan Terbang Tjililitan)

Lapangan Terbang Tjililitan dibuka pada tahun 1925 dan pada tahun 1947 dan digunakan sebagai landasan pacu oleh Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma, seorang pengatur siasat serangan udara atas daerah lawan, operasi penerjunan pasukan di luar Jawa dan penyelenggaraan operasi penerbangan dalam rangka pembinaan wilayah pada masa penjajahan Belanda.

Kala itu, Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma bersama rekannya Komodor Udara Udara Iswahjoedi pergi ke Bangkok pada bulan Desember 1947 dengan menggunakan pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003) namun pada saat kembali, pesawat ini jatuh di Pantai Tanjung Hantu Perak-Malaysia pada 14 Desember 1947. Jenazah Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma ditemukan, sedangkan jenazah Iswahjudi tidak ditemukan.

Sebagai penghargaan atas pengabdiannya terhadap Angkatan Udara, pangkat keduanya dinaikkan menjadi Laksamana Muda Udara (sekarang Marsekal Muda Udara) Anumerta.

Lima tahun sejak wafatnya, yaitu pada 17 Agustus 1952 nama Lapangan Terbang Tjililitan diubah menjadi Landasan Udara Halim Perdanakusuma. Sedangkan nama Marsekal Muda Anumerta Iswahjoedi diabadikan sebagai nama Landasan Udara Angkatan Udara Madiun yang sebelumnya Bernama Lapangan Terbang Maospati.

Jika kamu berangkat bersama rombongan ke Lapangan Udara Halimperdanakusuma, biasanya kamu akan diajak ke skuadron 17 atau skuadron 31.

Saya dan rombongan, sesampainya di Lanud Halim Perdanakusuma, langsung menuju ke Skuadron 31. Hanggar yang masih dipertahankan keaslian bentuknya sejak tahun 1930an.

Cirinya adalah atap yang berbentuk setengah lingkaran. Berbeda dengan skuadron yang sudah di modernisasi yang atapnya sudah berbentuk lancip seperti umumnya atap. Sampai saat ini konstruksi dari hanggar skuadron 31 ini masih asli, hanya ditambahkan ubin saja pada bagian lantai.

Skuadron 31 ini adalah hangar pesawat Hercules. Dan pada masa itu, Indonesia adalah negara pertama yang menggunakan pesawat Hercules bukan hanya se-Asia Tenggara melainkan negara pertama yang menggunakan Hercules diluar Amerika Serikat.

Sekitar tahun 1960-an, Hercules T-1301 masih merupakan produk baru dari Arsenal Sistem Senjata Amerika Serikat dan produk baru tersebut digunakan oleh Indonesia dalam rangka meningkatkan performa angkatan udara setelah sebelumnya menggunakan pesawat Dakota C-47.

Pesawat ini bukan hanya berjasa saat peristiwa Dwikora dan Trikora namun juga berjasa dalam operasi kemanusiaan seperti tsunami Aceh dan badai besar di Darwin, dan dalam operasi penyelamatan pengungsi Vietnam.

Sekitar tahun 1974, sebagian Lapangan Udara Halimperdanakusuma dioperasikan untuk penerbangan sipil karena saat itu Bandara Kemayoran terlalu padat melayani penerbangan sipil, hingga pada perkembangannya dibangun Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng dan Bandara Kemayoran tidak lagi difungsikan.

Bagi masyarakat umum yang ke Bandara Komersil Halim Perdanakusuma, sejarah panjang Landasan Udara Halim Perdanakusuma ini dapat dilihat melalui foto-foto yang dipajang disepanjang lorong terminal kedatangan. Namun bagi pengunjung yang mengajukan ijin khusus seperti kami, kami bisa melihatnya di museum yang ada di dalam Lanud Halimperdanakusuma.

Museum yang dicetuskan dan diprakarsai oleh Komandan Lanud Halim Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, SE ini memajang sejumlah foto dan gambar sejarah berdirinya pangkalan udara Halim Perdanakusuma seperti foto hitam-putih pesawat tempur dan pesawat angkut yang telah memperkuat dan mendukung keberhasilan perjuangan kemerdekaan sejak tahun 1947 seperti B-25 Mitchell, Dakota, MIG, Albatros, Mustang dan juga foto para pelaku sejarah.

Dalam museum tersebut terdapat sekitar 600 foto yang dipajang setelah melalaui proses repro. Dan salah satu foto tersebut terdapat sebuah pesawat Dakota yang dahulunya sering digunakan untuk mengangkut uang ke daerah-daerah di Indonesia terutama bagian timur Indonesia.

Pada museum ini juga terdapat satu ruangan teater yang menayangkan video-video dokumentasi serta tayangan akrobatik udara yang bisa ditonton oleh pengunjung.

Pada museum ini juga terdapat flight simulator, sebuah instalasi yang dirancang layaknya kabin pesawat lengkap dengan pedal dan konsol tuas serta sebuah layar yang membuat penggunanya seakan-akan sedang mengendalikan sebuah pesawat.

Tidak hanya itu, kami pun berkesempatan untuk menaiki pesawat dan duduk di dalam pesawat Hercules, tentunya dengan pengawasan petugas.

Bagaimana? Tertarik berkunjung ke Lanud Halimperdanakusuma? Bisa ajak anak juga lho!

Sebagai catatan, jika hendak ke sini dan berkeliling seperti yang saya lakukan, harus datang berkelompok dan mengurus surat ijin masuk Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma terlebih dahulu. Gratis alias tanpa biaya, sehingga cukup membayar bis carteran saja. Saat berkeliling lapangan udara, pengunjung akan didampingi oleh salah satu petugas berseragam Angkatan Udara.

Selain itu, pengunjung harus memakai pakaian yang sopan. Tidak diperkenankan menggunakan celana pendek, sandal jepit atau pakaian yang cenderung terbuka.

Oiya, saat ini sedang dibangun kawasan agro eduwisata di Lanud Halimperdanakusuma yang terletak di antara RSAU dr. Esnawan Antariksa dan Gedung Griya Ardhya Garini.

Adanya kawasan ini diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan, juga dapat menjadi sarana konservasi lingkungan, edukasi dan rekreasi bagi masyarakat, serta pengembangan usaha pertanian, perkebunan atau perikanan.

Bakal makin banyak ya pilihan wisatanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.