Ransel Saya

"A traveler I am, a navigator, and everyday I discover a new region within my soul." ~Kahlil Gibran~

Papoea; Cinta di Icip Pertama

Okay, be prepare for the weirdest one” ujar saya dalam hati saat diajak makan bareng Belanga Indonesia di Papoea Kemang. 

Ya, sesuai namanya, saya akan mencicipi makanan-makanan dari tanah Papua. Tempat yang masih saya kunjungi dalam mimpi, lewat internet atau buku-buku perjalanan. Begitu mendapat email dari Bonnie, saya langsung berpikir, “oke lah, icip makanannya dulu baru sambangi pulaunya”

Bagi saya yang tinggal di kota penyangga Jakarta, untuk menuju ke Papoea Kemang ini simpel-nya ya naik kereta, turun di Stasiun Kebayoran dan melanjutkan perjalanan diantar akang ojek online. Waktu tempuh sekitar satu jam saja tanpa senewen dengan kemacetan jalan antar kota. 

Di Papua, nasi bukanlah main course, masyarakat disana lebih menyukai sagu, pohon sagu adalah pohon segala bisa, dari mulai isi batang sagunya yang diolah menjadi papeda dan papeda goreng, batang sagu untuk bahan baku pembuatan rumah, serat daun pohon sagu untuk dikreasikan menjadi tas dan pakaian bahkan mengambil jamur dan ulat yang muncul dari pohon sagu yang sudah lapuk. Konon, ulat sagu itu rasanya enak.. 

Sebagai makanan pembuka, saya mencoba papeda goreng yang ternyata rasanya sepintas mirip dengan cireng, namun tekstur papeda goreng lebih kenyal. selain papeda goreng, saya juga makan penganan ala kakek dulu yang masih belum turun pamornya hingga hari ini: pisang goreng, pisang rebus, pisang bakar… Rasa pisangnya yang semanis hari ini pas banget dimakan berdampingan dengan kopi Wamena Arabika yang saya pesan…

Saya jadi membayangkan mengudap sambil berada di teras rumah dalam suasana hujan…

.
Si Bubur Lengket

Disini saya dan teman-teman saya mencoba makan papeda, kami diberi dua mangkuk yang berisikan papeda pada satu mangkuk, kuah mahi-mahi pada mangkuk lainnya…kami juga diberikan sumpit… Berbeda dengan cara pakai sumpit untuk makanan Cina dan Jepang, sumpit untuk makan papeda dipegang dengan dua tangan, satu tangan satu stik. Kemudian dengan kedua stik itu papeda di ambil dan di puntir-puntir hingga membentuk bola dan segera dicemplungkan kedalam kuah mahi-mahi yang masih panas. 
Karena harus dilakukan dengan ritme yang cepat, acara kami makan papeda itu tak ubahnya seperti lomba, seru… Karena telat sedikit, papeda akan lengket dan susah di cemplungkan kedalam kuah. 

Papeda yang sudah berenang dalam kuah kemudian dimakan dengan cara diseruput…sruuut.. 
Ngga perlu jaim karena suara berisik saat menyeruput.. Sama lah dengan di Jepang, disana suara menyeruput makanan mengindikasikan makanan itu enak.. Nah di Papua juga begitu.. 

Diantara kami semua, yang paling ahli makan papeda itu semua yang satu meja dengan Mbak Ninnet hingga didapuk sebagai penyeruput papeda dengan suara terkeras…

Melihat wujud dan tekstur papeda yang slimy, saya ngga sangka makanan yang wujudnya kayak lem kertas ini ternyata enak, apalagi dihidangkan dengan kuah mahi-mahi yang diracik sendiri oleh Mbak Amel dirumah. 

Ikan Asar itu Ikan Apa? 

Itu yang saya tanyakan ke Mbak Amel, pemilik Papoea Kemang ini kemudian menjelaskan bahwa ikan asar bukan dinamai karena jenis ikannya, melainkan nama pemrosesannya. 

Ikan segar yang ditangkap pagi hari langsung diasap untuk dimakan sore hari tanpa takut kehilangan cita rasanya.

Buat saya yang pencinta ikan asap, makanan ini surga bagi lidah saya.. Aslinya, saya kurang suka dengan tuna, namun ternyata ini ngga berlaku untuk tuna yang dijadikan ikan asar… Ikam asar yang ada didalam nasi bakar rasanya enak, tapi ikan asar yang ada disamping nasi bakar lebih enak lagi.. bumbu untuk kedua penganan ikan asar itu memang beda, ikan asar yang berselimut nasi itu rasanya gurih, tapi yang disuwir disamping nasi lebih kuat rasanya karena rempahnya lebih dominan.. Itu tuh yang membuat rasanya lebih ennnaaaakkk…
Setelah ikan asar, kami sibuk membaca buku tentang Papua yang ada di rak, dan melipir ke teras untuk berfoto dengan menggunakan pakaian tradisional masyarakat Papua… Tapi kemudian saya mendengar Mbak Ninnet berteriak “kue lontaaaar, ini yang gue tunggu-tunggu, kalo ini enak, gue pasti jadi langganan” ujarnya bersemangat. 

Kue yang diperkenalkan oleh Belanda saat menjajah Papua ini sebenarnya adalah eggtart, nama lontar bukanlah bahan baku pembuatan kue lontar seperti bayangan saya, lontar itu adalah sebutan bagi wadah penyajiannya, piring keramik khas dengan motif ikan.. Entah bagaimana ceritanya dulu hingga wadah ini menjadi nama paten bagi kue ini sehingga meskipun tidak berwadah keramik motif ikan, ya namanya tetap kue lontar. 

Eggtart boleh berganti nama, tapi yang jelas eggtart ini rasanya lebih enak daripada yang pernah saya cicipi sebelumnya…

Setujulah saya dengan Mbak Ninnet, bakal jadi langganan Papoea Kemang.

===

UPDATE: Papoea Kemang sudah tutup, dan jika hendak mencicipi makanan Papua, samperin aja Papoea by Nature di Jl. Pakubowono, Jakarta Selatan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Information

This entry was posted on Januari 17, 2018 by in All, Culinary, Dessert, Main Course, Papua, Seafood, Vegetarian and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: