Rejeki yang Tak Tertukar

Kalau boleh “menggeser” sebuah peribahasa, perjalanan itu ibarat sebuah batu yang menyembunyikan makna dibaliknya.
Perjalanan dengan keempat teman saya kemarin ngga selalu mulus lancar…  

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Negeri Maori, sentilan demi sentilan dipercayakan kepada kami.. 

Bagasi yang Tersasar

Alis mendapat urutan pertama, begitu sampai di Bandara Auckland, bagasi Alis yang gede banget itu ngga muncul-muncul.. (diantara kami berlima, bagasi Alis yang paling gede, gue curiga sih, dia mau liburan apa minggat)..

Jadilah hari itu kami antar Nyonya Alis keliling kota buat belanja…

Belanja, selfie dan kebab sanggup meredam gundah gulana si Nyonya hari itu.

Ditunjuk Polisi

Nyetir di Auckland itu seperti nyetir di Tol Jagorawi pas semua orang diliburkan saat demo akhir tahun lalu.. Malah jadi agak susah menjaga agar tidak melebihi limit. 

Beberapa kali kecepatan jadi ngga konstan karena pas liat meter, kok nyaris lewat limit.. 

Sampai di suatu jalan menuju Rotorua, tiba-tiba polisi dari pinggir jalan menyalakan sirene dan menunjuk kearah kami dengan tatapan tajam menusuk dan mulut terkatup cemberut.. Gawatttt…. 

“Mati deh gue”, kata Ririn panik.. 

Sambil mempersiapkan semua dokumen, Ririn diberitahukan oleh Om Polisi bahwa sudah melanggar batas kecepatan, kelebihan sebesar 11km/jam.

Mbak “tiang listrik mini” lagi panik..

Jadilah kami kena tilang sebesar NZD 80, 

Proses tilang tergolong cepat: interogasi, melihat bukti over limit, pengecekan surat ijin mengemudi, merekam bukti suara pengemudi (menyebutkan nama dan alamat) trus tunggu tagihannya melambai ramah di kotak pos rumah.. Bayarnya, pakai credit card via website. 

Ketinggalan dan ketinggalan

Terburu-buru memang kunci utama keteledoran.. 

Saya sudah ketinggalan satu baju dan sabun di Auckland saat berangkat ke Rotorua… Kemudian ketinggalan syal houndstooth favorit saat terburu-buru membeli tiket Glow Worm Cave karena loket nyaris tutup.

Sebelum hilang, sempat feeling juga sih kalau “masa pakai”nya hanya tinggal sebentar lagi

Sementara Galuh ketinggalan handuk travelingnya di Christchurch, dan baru sadar setelah sudah setengah jalan ke Danau Tekapo.

Dan Okky ketinggalan camera softcase nya, entah dimana… Kalau yang ini sih sempat beberapa kali nyaris ketinggalan sebelum ketinggalan betulan.. 

Kecurian

Rejeki yang paling singkat menghampiri kali itu sih jatahnya Okky, baru juga ngambil uang di ATM, beberapa jam kemudian lembar-lembar tersebut berpindah tangan. 

Semua dapat giliran ternyata ya…  Bagasi si Nyonya sih berhasil didapatkan kembali setelah beberapa hari ketar-ketir, selebihnya, memang bukan rejeki kami lagi..

Jika semua ada waktunya, begitu pula dengan kebendaan yang ada pada kami, ada yang disasarkan sebentar sebelum kembali, ada juga yang sudah habis “masa pakainya” sehingga Tuhan melepaskan kita dari kepemilikan sementara kita terhadapnya.

Rejeki memang tidak akan tertukar. 

===

📷 by: Okky and Me

Advertisements

7 thoughts on “Rejeki yang Tak Tertukar

  1. Pingback: Saya dan TitipanNya – Treasure Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s