Apakah kita mau begini sajaβ¦ sampai mati? π
Dunia akan selalu punya cara untuk membuat kita sibuk.
Segala persoalan yang datang silih berganti. Satu urusan selesai, urusan lain menunggu. Kita terus mencari solusi, sampai terkadang kita lupa bertanya: sebenarnya sedang menuju ke mana?
Dalam pandangan tasawuf, hidup bukan sekadar perjalanan menyelesaikan persoalan dunia.
Dunia adalah madrasah kehidupan, tempat jiwa ditempa agar mengenali siapa dirinya, mengenali kefakirannya, dan kembali kepada Rabb-nya.
Maka ketika Allah menghadirkan ujian, sakit, kehilangan, kegagalan, atau sesuatu yang membuat langkah kita terhenti, jangan-jangan itu bukan sekadar gangguan dalam perjalanan.
Boleh jadi itu adalah panggilan untuk kembali.
Kembali dari merasa mampu menuju pengakuan bahwa kita tidak berdaya tanpa-Nya.
Kembali dari mengejar dunia menuju mengingat tujuan kepulangan.
Kembali dari mengikuti hawa nafsu menuju kehendak-Nya.
Sebab selama ini, bukankah kita sering merasa bahwa hidup adalah milik kita?
Kita ingin menentukan semuanya. Ingin rencana berjalan sesuai kehendak. Ingin orang lain mengikuti keinginan kita. Ingin tubuh selalu sehat, rezeki selalu lapang, keluarga selalu baik-baik saja.
Padahal satu napas saja bukan milik kita.
Bahkan hati yang ingin mencintai-Nya pun bukan milik kita.
Khusyuk dalam sujud adalah pemberian-Nya.
Air mata dalam munajat adalah pemberian-Nya.
Keinginan untuk bertaubat pun adalah taufik dari-Nya.
Maka jangan terlalu cepat merasa mampu mendekat kepada Allah dengan kekuatan diri sendiri.
Bahkan manusia yang paling sempurna, Rasulullah saw pun bersabda,
“Ya Allah, perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasai).
Tak jarang, tanpa sadar selama ini kita terlalu sibuk meminta agar masalah segera selesai, padahal melalui masalah itu Allah sedang mengajarkan kita sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana menjadi hamba.
Tujuan akhir dari perjalanan ini bukanlah kehidupan yang tanpa masalah.
Tetapi juga belajar memahami: βApa yang sedang Allah ajarkan kepada jiwa saya melalui ini?β
Semoga setiap takdir yang menyapa tidak hanya mengubah keadaan hidup kita, tetapi juga membangunkan jiwa yang tertidur, membersihkan hati yang keruh, meluruskan langkah yang menyimpang, dan mengembalikan wajah kita kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Sampai suatu hari, ketika dipanggil pulang, kita tidak lagi asing dengan-Nya.
Allahumma aamiin.
#Tasawuf #Suluk #TazkiyatunNafs #MadrasahKehidupan #SpiritualJourney
Artikel ini adalah takarir (caption) dari Instagram Cerita Setapak Jalan yang dikelola oleh tiga orang: Mbak Putri Zainur, Kang Herry Mardian dan saya.
Mbak Putri dan Kang Herry fokus pada isi slide, sementara saya mengisi takarirmya.