Sering kali mata awam kita tertegun kasihan memandang penderitaan sesama. Sakit yang menggerogoti, kehilangan yang meremukkan, atau kesempitan hidup tampak seperti beban yang mengimpit.

Namun di balik wajah ujian yang tidak menyenangkan itu, kita juga sering melihat bahwa ternyata jiwa-jiwa yang ditempa itu tumbuh. Hati yang melembut, menanggalkan keakuan, melepas penghakiman, dan mendekat ke hadirat Sang Pencipta.

Sesungguhnya, setiap jiwa adalah benih yang dikirim ke ladang dunia. Tak ada benih yang bertumbuh menjadi pohon rindang tanpa disapa terik matahari, disiram hujan, ditampar angin, atau diguncang badai. Dan Allah adalah Sang Petani Yang Maha Lembut, Yang Paling Mengetahui kadar air, cahaya, dan tanah yang dibutuhkan setiap benih agar tumbuh dan berbuah sesuai fitrah keilahiannya.

Takdir yang dibentangkan di hadapan kita bukanlah sekadar peristiwa acak yang harus “dijalani lalu selesai”. Setiap helai kejadian adalah jemari Sang Petani yang sedang bekerja. Ada takdir yang hadir bak air dan pupuk yang menyegarkan. Namun ada pula takdir berupa cangkul dan garu yang mengoyak, membelah, dan membongkar tanah ego kita. Semua itu dilakukan-Nya agar akar dapat menghunjam lebih dalam untuk jiwa tumbuh lebih kuat.

Boleh jadi yang kita tangisi sebagai musibah adalah rahmat yang sedang menyiangi gulma di hati. Dan boleh jadi nikmat yang kita agungkan justru racun yang mematikan rasa butuh kepada-Nya.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa ujian ini terjadi?” Melainkan, “Sedang menjadi manusia seperti apa Allah membentuk saya melalui ujian ini?”

Semoga setiap takdir yang menyapa tidak lewat begitu saja sebagai angin lalu, melainkan benar-benar menghidupkan jiwa, melembutkan hati, meluruskan arah perjumpaan dengan-Nya, dan membuat kita kian merasakan kasih sayang Sang Maha Pendidik yang tak henti merawat benih jiwa ini.

#Suluk #Tafakur #TazkiyatunNafs #SelfReminder #SelfGrowth


Artikel ini adalah takarir (caption) dari Instagram Cerita Setapak Jalan yang dikelola oleh tiga orang: Mbak Putri Zainur, Kang Herry Mardian dan saya.

Mbak Putri dan Kang Herry fokus pada isi slide, sementara saya mengisi takarirmya.