Sisipan Belitung

Setelah bercerita panjang lebar tentang Belitung, saya malah belum bercerita tentang persiapan saya kesana. 

Saya terbiasa untuk packing mepet, meski sudah di list sebelumnya. Karena sering kali bongkar pasang-nya lebih lama, jadi make sure dulu mau bawa apa saja…

Packing list

Yang saya dahulukan justru alat rekam digital beserta perlengkapannya, ibaratnya, kalo ketinggalan pakaian, masih bisa beli lagi, sementara alat rekam belum tentu.. Dan ini lho yang saya bawa:

Terlalu banyak ternyata, sebagiannya ngga saya gunakan, seperti gimbal yang ngga jadi digunakan karena hujan deras dan saya belum memiliki pelindung untuk gimbal yang saya bawa. 

Chest strap dan head strap malah ngga dipakai karena saya lupa bawa ini saat di Belitung… 😑

Yang sangat terpakai justru charger mobil. Karena saya, Mbak Rien, Mbak Di, Mas Arif dan Lala sempat terjebak banjir saat hendak ke Bandara setelah berbelanja oleh-oleh. 

Banjir yang Istimewa Itu.. 

Sebenarnya adalah imbas hujan berhari-hari disertai angin puting beliung. Kami beberapa kali nekat menerobos banjir demi sampai di Bandara. 
Terhitung empat banjir besar yang kami lewati hari itu, yang salah satunya membuat mobil yang kami tumpangi nyaris mogok. 

Baterai handphone juga cepat sekali habis karena sulit mendapat signal, hingga sekali waktu berseloroh “lain kali kalau beli handphone harus sama SIM Card dan BTS-nya”

Karena kesulitan kami menuju bandara ditambah kesulitan signal, membuat kami cukup ketar-ketir, apakah kami bisa pulang hari itu. 

Setibanya kami di Bandara (akhirnya), kami mendapati bahwa ada satu penerbangan dibatalkan dan lainnya terlambat. Dan disini signal juga tidak ada, dengar-dengar sih ada BTS yang mendadak tidak berfungsi dan pihak bandara hanya menggunakan sumber tenaga yang tersedia hanya untuk penerbangan saja. 

Penerbangan pesawat ke Batam yang ditumpangi Mbak Di berangkat setelah delay hampir dua jam, sementara hingga hari menggelap, keberangkatan ke Jakarta untuk saya, Mbak Rien dan Mas Arif belum mendapat kepastian keberangkatan, pesawat kami sudah stand by, tapi tidak boleh mengangkasa karena kendala cuaca.

Kami mulai kelaparan dan karena keterlambatan ini merupakan force majeur, kami tidak dapat meminta claim apapun… Kami mencoba melihat sekeliling bangunan utama bandara, dan ternyata sama sekali tidak ada toko makanan yang buka. 

Kami menghampiri petugas keamanan bandara, menanyakan kemana kami bisa membeli makanan dan minuman… mungkin karena iba melihat wajah kami yang pucat kelaparan, mereka menawarkan untuk membelikannya di luar area bandara, karena mayoritas tempat berjualan tutup lebih cepat di Hari Minggu, kemungkinan yang masih buka di jam 8 malam itu adalah Restoran Hangar, restoran yang menjadi tempat meeting point kami saat tiba di Belitung beberapa hari lalu.

Bagai mendapatkan air di padang sahara, kami sama sekali tidak menolak. 

Sembari menunggu petugas bandara yang mau berbaik hati membelikan makanan untuk kami, kami berbincang dengan Pak Musi, salah satu petugas bandara lainnya yang bertugas malam itu. 

Disaat kami berbincang seru mengenai perjalanan kami di Belitung selama 3 hari, tiba-tiba pesawat kami diumumkan akan berangkat dalam waktu 20 menit. 

Mendengar itu, kami bersorak dan berpamitan kepada Pak Musi. “Wah, makanan yang tadi dipesan bagaimana?” ujarnya. Saya hanya bilang “Rejeki tim bapak yang shift malam”.

Rasa lapar mendadak musnah, berganti buncah kegembiraan karena akan pulang…

Pulang adalah hal yang kami tunggu kemanapun kami pergi, karena pulang adalah esensi sebuah perjalanan.

Advertisements

4 thoughts on “Sisipan Belitung

  1. Banjirnya ngeri juga ya, lebih besar dari yang pas kita ke Belitung Timur ya kayaknya? Pas kalian banjir-banjiran itu, kami ternyata juga sedang menantang badai di tengah laut. Sampe masuk angin segala akunya, haha.

    Like

    1. Iya, sampe ada beberapa yang gak bisa dilewati karena arusnya deras.. Sempet kepikiran, yg didarat aja susah, gimana yang dilaut…

      Like

  2. Hahaha saking buru2nya waktu itu, turun dari mobil sampe gak sempat pamitan cipika cipiki ya kitaa..
    Btw aku kemaren juga banyak bawaan yg gak kepake, baju sengaja emang bawa lebih, gak kepake.. Bawa tongsis pun gak kepake. Sampe rumah baru inget.. 😂😂😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s