Sungai tidak pernah berjalan lurus. Ia berkelok, melewati batu, menyempit, melebar, kadang mengalir deras, kadang begitu tenang. Namun, ia tidak berhenti hanya karena jalannya berubah.
Begitu pula kehidupan.
Dalam perjalanan suluk, hidup bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tujuan. Ia adalah proses mengenali siapa diri kita, melepaskan apa yang perlu dilepaskan, dan belajar menerima setiap keadaan sebagai bagian dari perjalanan pulang.
Ada masanya kita harus berjalan.
Ada masa kita perlu melambat.
Ada masa yang terasa seperti ‘terjun bebas’.
Ada masa ketika arus membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan.
Sungai kehidupan mengajarkan bukan untuk melawan arus. Tetapi juga bukan berarti kita menyerahkan diri dengan berputus asa.
Di sepanjang perjalanan, kita belajar membaca arah, mengenali rintangan, dan tetap berjalan dengan kesadaran bahwa setiap aliran memiliki muaranya.
Perjalanan ke dalam diri pun seperti itu.
Kita mungkin berangkat dari tempat yang sama, alam alastu, tetapi begitu dilahirkan ke alam dunia, setiap orang memiliki aliran kehidupannya sendiri. Ada yang deras, ada yang tenang. Ada yang panjang, ada yang singkat. Ada yang penuh kelokan.
Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai.
Melainkan mutiara hikmah yang kita temukan sepanjang perjalanan menuju muara.
Sungai terus mengalir. Kita pun terus berjalan.
Dan dalam perjalanan itu, tugas kita bukan menguasai sungai, melainkan belajar mengenali diri sejati yang dekat dengan Rabb-nya.
#Suluk #SungaiKehidupan #RefleksiDiri #SpiritualJourney #Renungan
Artikel ini adalah takarir (caption) dari Instagram Cerita Setapak Jalan yang dikelola oleh tiga orang: Mbak Putri Zainur, Kang Herry Mardian dan saya.
Mbak Putri dan Kang Herry fokus pada isi slide, sementara saya mengisi takarirmya.