Sering kali ketenangan dibayangkan berada di tempat yang jauh dari hiruk pikuk, pekerjaan yang tidak melelahkan, lingkungan yang tidak banyak menuntut, dan hari-hari yang lancar tanpa masalah.

Padahal dalam jalan suluk, kehidupan yang sedang dijalani adalah bagian dari didikan yang Allah pilihkan untuk jiwa.

Orang-orang yang menguji kesabaran, kehilangan yang menyakitkan, pekerjaan yang melelahkan, rencana yang gagal, penantian yang panjang, semuanya dapat menjadi cermin yang memperlihatkan keadaan batin.

Ketika apa yang terpantul di cermin itu membuat seorang hamba belajar dan Allah meridhainya, bukan tidak mungkin Allah memberikan sifat-sifat baru pada diri sang hamba, yang tercermin dari nama-nama-Nya:

Sabar.
Pemaaf.
Pengasih.
Adil.

Namun, itupun belum tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah semakin dekatnya sang hamba kepada Sang Tuan.

Karena itu, menjauh dari kehidupan belum tentu membuat jiwa lebih dekat kepada Allah.
Suluk bukan sekadar mencari tempat yang tenang. Ia adalah perjalanan untuk menemukan ketenangan di tengah takdir yang tidak selalu tenang.

Dalam prosesnya, rasa syukur tumbuh menjadi semakin nyata.

Bukan bersyukur karena semua berjalan sesuai harapan, tetapi karena perlahan hati mampu melihat bahwa setiap kejadian adalah didikan-Nya.

Mungkin suatu hari, ketika perjalanan ini selesai, yang paling kita syukuri bukanlah kehidupan yang sempurna, melainkan seluruh jatuh bangun yang ternyata tepat untuk membentuk jiwa menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Maka, ketimbang berangan-angan memiliki kehidupan yang lain, belajarlah membaca rahasia kehidupan yang sedang dijalani.

Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk membaca, memahami, menerima, dan mensyukuri kehidupan yang telah Dia pilihkan.

#Suluk #TazkiyatunNafs #Muhasabah #Renungan #SpiritualJourney


Artikel ini adalah takarir (caption) dari Instagram Cerita Setapak Jalan yang dikelola oleh tiga orang: Mbak Putri Zainur, Kang Herry Mardian dan saya.

Mbak Putri dan Kang Herry fokus pada isi slide, sementara saya mengisi takarirmya.