Kematian adalah kepastian. Tidak ada yang dapat menundanya ketika waktunya tiba. Namun, yang perlu dipersiapkan bukan hanya saat kematian datang, melainkan di mana hati berada ketika saat itu tiba.

Yang sering ditakutkan oleh kebanyakan manusia sebenarnya bukan hanya kematian itu sendiri, melainkan kehilangan dunia: kehilangan orang-orang yang dicintai, harta, kedudukan, kenyamanan, rencana, bahkan identitas yang selama ini dibangun.

Dalam jalan suluk, kematian tidak semata dipandang sebagai berakhirnya kehidupan, tetapi sebagai kepulangan. Jasad kembali kepada tanah, sementara jiwa melanjutkan perjalanan ke alam berikutnya.

Sehingga, menuju kematian adalah tentang mempersiapkan bekal yang benar-benar dapat dibawa dan melepas apa yang memang harus ditinggalkan.

Melepaskan rasa memiliki terhadap sesuatu yang sejak awal bukan milik sejati.

Semua itu adalah latihan untuk kembali kepada kesadaran paling sederhana: seorang hamba tidak memiliki apa-apa.

Bahkan kehidupan ini pun bukan miliknya.

Kesehatan, anak, pasangan, harta, waktu, bahkan tubuh yang selama ini disebut “diri” pun bukan miliknya. Semua pada akhirnya akan dikembalikan.

Maka setiap kehilangan, jika dipandang dengan mata batin, sebenarnya sedang mengajarkan satu hal yang sama: jangan terlalu erat menggenggam sesuatu yang memang akan dikembalikan.

Itulah sebabnya ada bagian dari perjalanan hidup yang terasa begitu pahit. Allah sedang mengikis sedikit demi sedikit apa yang membuat hati terlalu mencintai selain-Nya.

Sakit mengajarkan keterbatasan.
Kehilangan mengajarkan pelepasan.
Kegagalan mengajarkan kefakiran.
Penantian mengajarkan kesabaran.
Ketidakberdayaan mengajarkan tawakal.

Dan ketika semua pegangan duniawi perlahan dilepaskan, hati mulai mengenali satu-satunya tempat bergantung yang tidak pernah hilang:

Allah.

Mungkin, kematian yang indah berawal dari “kematian kecil” berupa tempaan takdir yang terus-menerus: matinya kesombongan, matinya rasa memiliki, matinya keinginan menguasai, dan matinya segala sesuatu yang membuat hati lupa bahwa ia hanyalah seorang hamba.

Hingga kemudian ia benar-benar hidup sebagai hamba, menerima pengaturan-Nya dengan keridhoan.

Semoga kelak panggilan pulang itu adalah panggilan yang ditunggu karena kita sudah menghamba dengan sungguh-sungguh.

Allahumma aamiin.

#Tasawuf #Suluk #TazkiyatunNafs #MadrasahKehidupan #SpiritualJourney


Artikel ini adalah takarir (caption) dari Instagram Cerita Setapak Jalan yang dikelola oleh tiga orang: Mbak Putri Zainur, Kang Herry Mardian dan saya.

Mbak Putri dan Kang Herry fokus pada isi slide, sementara saya mengisi takarirmya.