Pernah nggak, merasa hidup ini nggak adil? Ada saja kejadian yang bikin kecewa. Teman yang ingkar janji, bos yang nggak menghargai kerja keras kita, orang terdekat yang menyakiti tanpa pikir panjang, bahkan niat baik yang disalahartikan.

Wajar kalau kita kecewa. Tapi, pernah kepikiran nggak kalau mungkin rasa sakit yang kita rasakan bukan cuma karena tindakan mereka, tapi juga karena cara kita menerimanya?

Menyalahkan Itu Mudah, Tapi Apa Gunanya?

Ketika sesuatu yang nggak enak terjadi, insting pertama kita sering kali mencari kambing hitam. “Kalau saja dia nggak ngomong gitu, aku pasti nggak sakit hati.” Atau, “Kalau aja mereka lebih peduli, hidupku pasti lebih bahagia.”

Tapi, nyalahin orang lain nggak akan bikin perasaan kita lebih baik. Justru sebaliknya, kita jadi kayak narapidana di penjara buatan sendiri, terperangkap dalam kemarahan dan kecewa yang nggak ada ujungnya.

Sementara kita sibuk berharap mereka berubah, kita lupa kalau yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri.

Luka Itu Seringkali Tak Terhindarkan, Tapi Penderitaan Bisa Dipilih

Jangan salah paham, luka itu nyata. Kita boleh sedih, marah, dan kecewa. Tapi, yang perlu kita sadari adalah: seberapa lama kita terjebak dalam perasaan itu adalah pilihan kita sendiri.

Ketika kita terus menyimpan dendam, kesal, terus menerus overthinking atau berharap seseorang minta maaf, kita sebenarnya menyerahkan kekuatan mengendalikan diri kita ke ‘tangan’ mereka. Bayangin, hidup kita dikendalikan oleh apakah orang lain akan berubah atau nggak. Melelahkan, kan?

Baca Juga: Goodbye That’s Never Spoken

Ambil Kembali Kendali

Kita nggak bisa ngatur bagaimana orang lain bertindak, tapi kita bisa mengatur bagaimana kita merespons. Kalau kita sadar bahwa kebahagiaan kita bukan tanggung jawab orang lain, kita jadi punya kebebasan untuk memilih bagaimana menjalani hidup.

Bukan berarti kita membiarkan orang lain semena-mena. Tapi, kita nggak akan membiarkan tindakan mereka menentukan kebahagiaan kita. Kita belajar dari pengalaman, lalu melangkah maju dengan lebih kuat.

Hidup Adalah Pilihan

Menyalahkan mungkin terasa lebih gampang, tapi melepaskan beban itu jauh lebih membebaskan. Kita bisa memilih tetap terjebak dalam dendam, amarah dan overthinking atau bangkit dengan kekuatan baru.

Dunia memang nggak selalu sesuai harapan, tapi ketenangan nggak pernah datang dari luar. Dia ada dalam diri kita sendiri.

Jadi, kamu pilih yang mana?

Baca Juga: Kerjakan yang Dalam Jangkauan