Bepergian ke tempat baru bukan hanya soal menikmati keindahan alam atau mencicipi kuliner khas. Lebih dari itu, traveling adalah pengalaman yang bisa membentuk cara pandang, mengajarkan rasa empati, dan meningkatkan kesadaran diri.
Namun, menjadi traveler yang baik bukan hanya tentang menjelajahi dunia, terlebih setelah menghadapi wabah Covid-19 yang mengubah perspektif hidup termasuk saat traveling. Mulai dari menyadari privilege yang dimiliki hingga mendukung bisnis lokal, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi wisatawan yang lebih bertanggung jawab.
Berikut adalah 8 langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk menjadikan perjalananmu lebih bermakna, baik bagi diri sendiri maupun bagi tempat yang kamu kunjungi. Kamu tidak harus menerapkan semuanya sekaligus, tetapi memulai dengan perlahan.
1. Sadari dan Bersyukur Atas Kelebihan yang Kamu Punya
Bepergian adalah sebuah kemewahan yang tidak semua orang dapat nikmati. Kelebihan ini bisa berupa kesehatan yang memungkinkan kamu bepergian, kemampuan finansial, kemudahan mendapatkan visa juga kemudahan cuti dari kantor. Sadarilah hal ini dan tetaplah rendah hati. Hargai kesempatan kamu traveling dengan bersyukur.
2. Patuhi Aturan dan Imbauan yang Ada
Hormati peraturan lokal, baik aturan hukum tempat yang kamu kunjungi maupun norma sosialnya. Jangan melanggar aturan hanya demi mendapatkan foto keren di media sosial. Patuhi batasan di tempat wisata alam, berjalanlah di jalur yang sudah ditentukan. Banyak kecelakaan terjadi karena orang mengabaikan peringatan demi foto yang Instagrammable.
3. Lebih Ramah Lingkungan Sebisa Mungkin
Perjalanan memiliki dampak besar terhadap lingkungan, terutama jika bepergian dengan pesawat. Namun, bukan berarti kamu harus berhenti bepergian. Cobalah untuk mengurangi jejak karbon dengan tindakan sederhana, seperti membawa tumbler, menggunakan tas belanja yang reusable, memilih transportasi umum saat memungkinkan, atau memilih makanan dengan bungkus yang mudah terurai. Setiap langkah kecil memiliki dampak besar jika dilakukan konsisten.
4. Berhati-hati dalam Interaksi dengan Hewan
Industri pariwisata sering mengeksploitasi hewan demi kepentingan wisatawan. Misalnya, gajah yang digunakan untuk ditunggangi manusia dalam pariwisata seringkali disiksa selama bertahun-tahun, jadi sebaiknya kamu tidak menggunakan jasa ini.
Juga hindari berfoto di samping hewan yang biasanya berbahaya seperti singa, harimau, dan beruang, tak jarang binatang-binatang ini dibius agar bisa dijadikan objek foto dan tidak membahayakan pengunjung. Daripada mendukung pembiusan itu secara tidak langsung dengan membuat laris sesi foto dengan binatang buas, lebih baik tidak sama sekali…
Jika ingin melihat hewan, pilihlah tempat konservasi yang benar-benar berkomitmen untuk melindungi hewan-hewan tersebut. Kunjungan kamu ke tempat ini juga sekaligus wisata edukasi untuk kamu dan keluarga.

5. Pelajari Sejarah dan Budaya dari Perspektif Lokal
Tak jarang informasi yang ada di buku sejarah memiliki perbedaan dengan apa yang dipahami oleh orang lokal. Misalnya, dalam perspektif Belanda, Jan Pieterszoon Coen secara historis dipandang sebagai tokoh penting dalam ekspansi VOC, yang sering dianggap sebagai pahlawan yang mendirikan Batavia (sekarang Jakarta) sebagai pusat perdagangan utama di Hindia Timur.
Tetapi sudut pandang kepahlawanan JP Coen itu bertolak belakang dengan apa yang terjadi di wilayah Indonesia yang pernah didatanginya. Misalnya metode brutal yang digunakannya untuk mengamankan dominasi Belanda, termasuk pembantaian dan perbudakan terhadap penduduk asli di Kepulauan Banda.
Kamu bisa mempelajari sejarah dengan bertanya dengan penduduk lokal atau datang ke perpustakaan setempat, misalnya mencari tahu bagaimana dampak Perang Dunia II (PD II) terhadap Korea selama pendudukan Jepang, kemudian mengapa begitu Jepang kalah PD II, Korea tidak langsung merdeka hingga alasan mengapa akhirnya Korea Utara menjadi negara komunis dan Korea Selatan menjadi negara kapitalis.
Ketika kamu belajar untuk melihat sejarah suatu wilayah, kamu bisa memahami negara tersebut dengan lebih jelas. Traveling pun jadi lebih lengkap, tidak hanya kuliner, wisata alam atau mencoba pakaian tradisional saja.
6. Dukung Bisnis Lokal
Setiap uang yang kamu belanjakan saat bepergian memiliki dampak besar. Alih-alih menghabiskan uang di restoran ternama atau atau mall, belanjalah di pasar lokal dan makan di warung atau restoran milik penduduk setempat. Selain mendukung ekonomi lokal, kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang lebih autentik.
Selain itu, berinteraksi dengan pemilik restoran atau pramusaji yang merupakan penduduk lokal di tempat kamu makan juga bisa menjadi pengalaman seru.
Jangan lupa untuk membeli barang dari pengrajin lokal, selain membantu menyejahterakan mereka, tentunya harga yang ditawarkan lebih murah ketimbang di mall. Jika menawar harga, tawarlah dengan harga yang wajar, atau mintalah harga pas.
Memaksa harga turun serendah-rendahnya dengan ngotot –sampai pura-pura pergi dan lain-lain– hingga tawaran harga yang hampir ‘tinggal ampas’ dari harga modal sang pedagang bukan hanya tidak etis. Jika sang pedagang menyetujui harga tawaran kita tapi dengan terpaksa (misalnya karena butuh pemasukan hari itu), maka hakikatnya sama saja dengan kita memakan uang riba dari transaksi tersebut (kita dalam posisi kuat untuk memaksa, sementara dia dalam posisi terpaksa menyetujui, namun tidak ridha).

7. Tidak Menghakimi Cara Orang Bepergian
Setelah traveling, biasanya seseorang akan menceritakan pengalamannya saat bepergian, termasuk juga tips-tipsnya. Jika kemudian teman yang kamu bagikan kisah perjalanan kamu berangkat ke tempat yang sama tetapi tidak mengikuti saran yang kamu sampaikan, jangan lantas mengkritiknya.
Ingatlah bahwa setiap orang memiliki keterbatasan dan alasan sendiri dalam cara mereka bepergian. Misalnya, dia memiliki alergi tertentu, ia takut alerginya kumat karena tidak tahu bahan yang dimasukkan ke dalam makanan, sehingga dia memilih makan di restoran internasional, ketimbang makan makanan lokal di warung kecil.

8. Terapkan Nilai-Nilai Positif di Kehidupan Sehari-hari
Menjadi traveler yang baik tidak hanya berlaku saat kamu bepergian. Terapkan nilai-nilai seperti menghargai perbedaan, peduli terhadap lingkungan, dan bersikap terbuka terhadap budaya lain dalam kehidupan sehari-hari.
Mulailah dengan langkah kecil, dan jadikan setiap perjalanan sebagai kesempatan untuk tumbuh, belajar, serta menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan berhenti hanya sebagai traveler yang baik, tetapi lanjutkanlah manusia yang lebih baik.
Nah, selain delapan langkah di atas, menurut kamu apa lagi yang perlu diterapkan? Yuk share di kolom komentar…***




inspiratif ttulisannya mbak
Menjadi traveler yang lebih peduli akan memberikan dampat positif bagi setiap tempat yang dikunjungi ya
SukaSuka
Baca artikel ini bikin saya terbawa ke masa lalu nih, saat masih ngantor dulu. Betapa happynya ketika bisa cuti dan jalan2 ke tempat yang menyenangkan. Benar banget. Hal2 seperti itu harus disyukuri, orang lain belum tentu bisa mengalaminya.
SukaSuka
setuju banget, traveler mestinya lebih berpandangan luas, berwawasan dan toleran terhadap perbedaan yang ada di masyarakat karena sudah menjelajahi banyak tempat dengan berbagai keunikannya
SukaSuka
setuju banget nih tipsnya karena traveling mestinya membuka mata kita terhadap dunia, kita bisa lebih toleran dan bersikap positif terhadap hal-hal yang berbeda di sekitar kita..
SukaSuka
Safety First not Selfie First. Sayangnya banyak yang mengabaikan keamanan hanya demi konten. Semoga banyak traveler yang sadar untuk mengutamakan keamanan.
SukaSuka
Suka sekali dengan penjabaran poin-poinnya Mbak. Menjadi traveller pada dasarnya adalah tamu. Namun, karena di sisi lain ada pepatah tamu/pembeli adalah raja, jadi ada yang bersikap suka-suka. Di banyak tempat wisata yang terkenal, penduduk lokal sudah menghadapi dilema antara kebutuhan hidup yang terpenuhi dari kedatangan wisatawan dengan terkikisnya kenyamanan/ketenangan hidup.
SukaSuka
Trueeee, bisa bepergian tuh priceless. Soalnya kalau udah bisa traveling tandanya kita lagi dalam kondisi sehat, mampu finansial, luang waktu juga. Dan pastikan juga perjalanan kita bisa lebih ramah lingkungan, mulai dari pemilihan bungkus makanan. Jangan lupa juga dukung bisnis lokal dengan mencoba kuliner setempat. Duh jadi pengen klinong-klinong deh!
SukaSuka
Yes mbak, setuju, intinya kalau kita travelingan ke tempat asing, kita kudu menjaga sikap ya, karena kadang ada adat budaya setempat yang berbeda. Salah satu cara belajar tentang budaya setempat akan membantu ya.
Selain itu mematuhi aturan yang ada juga penting dilakukan karena kebiasaan setempat bisa jadi beda. Perkara motret orang atau buang sampah aja bisa jadi beda.
Maka kalau jadi traveler jangan sekadar seneng2nya aja, tapi juga belajar hal2 baru ya mbak.
SukaSuka
Sekarang banyak jenis kegiatan wisata yang ditawarkan ya bukan sekedar datang dan pepotoan tapi ada aksi yang bisa traveler lakukan misalnya ikut membuat kerajinan, ikut masak atau ikut kegiatan bersih bersih pantai misalnya jadi ada kepedulian traveler pada tempat wisata
SukaSuka
iyes jangan demi sebuah foto, lantas melanggar norma sosial maupun batasan yang ada di tempat wisata yang di tuju.
Menawar serendah-rendahnya, terus bangga banget saat berhasil, padahal ada senyum kecut penjualnya, ini juga saya nggak suka mbak. Kalau saya biasanya nanya, “pas nya berapa?” dan bisanya pedagang bakal menurunkan harga, dengan dia tetap dapat keuntungan yang pas
SukaSuka
Sedih ya mbak kalau ada hewan-hewan yang dieksploitasi demi kepentingan wisatawan, tapi pada kenyataannya memang banyak yang begitu huhu
SukaSuka
terima kasih tips2nya kak. Traveling memang sebaiknya nggak hanya makan, foto wisata tapi perlu juga mengetahui sejarah daerah yg mau kita tuju. Selain itu juga harus taat pada peraturan setempat. Membeli sovenir atau makanan dari penduduk lokal (UMKM).
SukaSuka
Tips berharga karena memang seringnya pelancong yang rusak spot wisata dengan sampahnya
Perlu disimak dengan saksama nih sebelum jalan jalan supaya gak cuma kita yang senang tapi warga di sekitarnya juga makin senang
SukaSuka
Biasanya traveller itu masih banyak alpa-nya.. masih sering kepo sama hal-hal tertentu dan semoga kini setelah baca artikel ka Tami, jadi lebih paham bahwa travelling tidak hanya menikmati culinary, perjalanan dan ambiance-nya.
Tapi juga menikmati sejarah serta terkoneksi dengan warlok yang membuat travelling menjadi lebih berkesan dan bisa diambil pelajarannya.
Maniiss banget, ka.. Foto ama gajah di Way Kambas.
Hehhee..
SukaSuka
Bagus sekali idenya mba Tam, kita sebagai traveler jangan hanya mngunjungi tempat wisatanya saja tapi memberikan dampak positif bagi perekonomian di sana setidaknya, selebihnya ya sosial dan budayanya juga ikut berkembang baik ya, be smart traveler dan aware pada lingkungan sekitar
SukaSuka
Nah iya mba Mei, aku pun seneng nih sama pembahasan mba Tamy. Jadinya beneran traveller itu kasih impact super positif buat destinasi yang ia kunjungi. Bukan hanya sekadar explore saja melainkan jadi lebih paham adat istiadat warga lokal, beli makanan hingga kerajinan khas warga lokal. Beneran memberikan kesan baik, termasuk jaga lingkungan juga. Ciamik sekali, beneran mesti di baca sama para traveller.
SukaSuka
nah ini bukan sekedar traveler biasa, tapi bisa memberikan makna dan juga nilai-nilai positif dalam setiap perjalanan bukan hanya buat diri sendiri tapi juga buat orang lain sehingga travellingnya menjadi bermanfaat
SukaSuka
Traveling beneran bikin hidup makin hidup!
Biar kian cethar, yuk lahhh jadi pejalan yg makin peduli dan cinta alam.
Pastinya dunia akan menjadi lebih baik ya
SukaSuka
Setuju pisan sama tips²nya. Terutama no 3&6. Kita memang hrs tetep aware dan jaga lingkungan klo traveling ke daerah lain, termasuk di pelosok. Yg penting jg, dukung UMKM lokal dong.. Sy klo ke daerah² yg dicari makanan khas dan suvenir lokal. Tentunya bukan di mol jg nyarinya hehe
SukaSuka
Saya suka sekali traveling, Mbak. Walau belum jauh-jauh amat. Namun poin 1 itu sangat saya rasakan. Saat traveling saya bisa melihat dan merasakan banyak hal. Dan itu membuat saya semakin bersyukur. Misalnya saat bertemu bapak-bapak dengan usia tak muda lagi, tapi masih bekerja keras. Saya jadi bersyukur, selama ini saya dimudahkan bisa bekerja menulis di rumah. Pastinya selama jalan-jalan harus mengikuti aturan juga yang berlaku di tempat yang saya datangi
SukaSuka
setuju dengan tipsnya, terutama yang lebih berhati-hati saat pemotretan karena banyak yang nekad berfoto di tempat rawan demi konten media sosial huhu ngeriii..
SukaSuka
Memang sih kalau jalan-jalan saya juga sama sukanya belanja di pasar lokal atau tradisional. Beli souvenir yang lucu-lucu, biasanya kalau buatan tangan bisa bikin saya tertarik karena motifnya bagus-bagus. Seneng juga cari kulineran khas daerah. Seru pokoknya kalau bisa traveling apalagi bareng sahabat dan keluarga
SukaSuka
Kalo traveling kemana-mana, aku slalu usahakan sama seperti tips yang kamu berikan Mba. Aku pun begitu, sebisa mungkin mematuhi aturan yg ada di tempat yg dikunjungi. Kalo soal menawar souvenir aku emang gak jago, gak bisa nawar akutuuu wkwkwk
SukaSuka
tuls juga, jangan karena traveling jadi sekehendak hati tanpa memberikan manfaat maupun dampak yang baik buat lingkungan. Bepergian mah gak ada yang larang ya, hanya aja patuhi peraturan yang ada, dan lebih peduli dengan sekitar, sehingga tempat wisata tersebut juga dapat bertahan lebih lama
SukaSuka
Aku adalah orang yang nggak enak an kalau harus menawar dagangan orang. Semisal, aku nggak cocok dengan harga dagangannya. Ya mending aku nggak jadi beli. Kalau kepingin banget ya minta harga pasnya saja
SukaSuka
Suka banget sama tipsnya! Traveling nggak cuma soal jalan-jalan, tapi juga soal tanggung jawab. Semoga banyak traveler yang terinspirasi buat lebih peduli sama lingkungan dan budaya lokal.
SukaSuka
Kedelapan poin yan powerfull banget menurutku. Beneran menjadikan seseorang sosok traveller inspiratif. Terutama jadi traveller yang taat sama aturan lokal dan terapin go green kurangi jejak karbon kayak biasain bawa tumbler.
Terus bantu pemberdayaan ekonomi sekitar dengan belanja di pengrajin lokal. Sama kalau belanja ke pengrajin atau petani kalau memungkinkan tak usah nawar karena harga mereka biasanya sudah sangat ramah dikantong.
Semoga para traveller baca artikel ini dan menerapkan pada setiap momen bepergiannya.
SukaSuka
Point 5 Pelajari Sejarah dan Budaya dari Perspektif Lokal, itu sangat tepat menurutku, karena versi warga lokal kadang buatku lebih dipahami dan mengerti.
Point 6, super setuju, seperti prinsipku kalau traveling adalah buang duit, artinya upayakan tidak menawar, apalagi soal makan dan dinegeri sendiri hehehe.
Karena bagaimanapun mereka yang didaerah atau kota manapun kedatangan kita sejatinya rejeki mereka.
SukaSuka
nah setuju Kak Nik, kalo belajar sejarah dan budaya lokal setempat jadinya punya wawasan dan paham harus apa dan apa yang dilarang, sehingga lebih bijak bertindak ketika di tempat wisata
SukaSuka
tiap traveling aku memang ga terlalu tertarik masuk mall. Sesekali oke, tp biasanya numpang ngadem doang hahahahah. Memang lebih suka belanja di tempat warga lokal jualan, beli souvenirs pun lebih enak dengan warga lokal. Krn kita bisa ngobrol 😄.
salah nawar, aku memang ga tegaan dan ga jago pula 😂. Jadi asalkan penjualnya baik, ramah, mah harga berapa yg dia kasih, asal sesuai Ama budgetku pasti aku beli 🤭
ke anak2 ,aku selalu tekanin mba, utk bersikap sopan , hormati budaya setempat, dan ikuti aturan di sana. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung kan ☺️
SukaSuka
Sama… aku juga nggak tegaan nawar, jadi mentok-mentk nanya harga pas… tapi aku pernah lihat orang yang nawarnya luar biasa keukeuh, sampai wajah penjualnya sepet 😦
SukaSuka
Aku tercekat saat mbak cerita tentang hewan buas yg dibius. Kasihan sekali hewannya.
Memang saat traveling harus teliti dan hati-hati, juga tetap sopan terhadap warga lokal ya. Plus makan makanan lokal untuk menambah pengalaman baru.
SukaSuka
Bener banget poin2nya. Aku mikirnya, karena ingin senang2 selama perjalanan, sebisa mungkin jangan menyusahkan atau membuat kesal orang lain yang kami temui misalnya porter barang atau satpam hotel. Dan jangan lupa mengucapkan terima kasih sama yang sudah membantu walaupun itu memang tugas mereka, IMHO. Jd nanti mau jalan2 kemana lagi nih?
SukaSuka
Sekarang-sekarang ini lgi trip yang dekat-dekat dulu mbak… hihihi…
SukaSuka
Sukaa banget dengan poin-poinnya. Terutama di bagian nggak menghakimi cara orang lain bepergian. Dulu sih sering ya denger si A ngomongin si B, “ah jauh-jauh ke X kok malah di hotel mulu, sekalinya keluar hotel eh ke mal. Kalau mau ke mal sih, di kota asal juga banyak” haha. Padahal si B ini jalan pake uang sendiri, dan cara dia menikmati perjalanan ya seperti itu. Dan itu sah-sah aja gak ada salah.
Yang salah kalau liburan modal utang, yang kasih utang dihide pula dari semua sosmed hahahaha, dan pas ditagih marah-marah. Mau apapun jenis perjalanannya, orang model begini mending hempaskan! hwhw
SukaSuka
wkkk, iya banget! Hempaskan…
SukaSuka
Seriuusaaan ada yang modelan giniii??
Traveling modal ngutang?Aga gimanaa gitu yaa..
Tapi aku pernah punya beberapa cerita kalo ada yang nonton konser modal ngeboongin orang. Kok tega sii??
Mau seneng-seneng di atas kesedihan dan keterpurukan orang lain?!?
Btw, jadi kepikiran tentang mendukung bisnis lokal.Aku mulai belajar untuk ga nawar-nawar lagii.. Skarang uda ga bangga lagi dapet harga murce.. karena pastinya mereka sudah memperhitungkan barang dagangannya yang mungkin laku berapa dalam sehari atau bahkan seminggu itu…
SukaSuka