Bepergian ke tempat baru bukan hanya soal menikmati keindahan alam atau mencicipi kuliner khas. Lebih dari itu, traveling adalah pengalaman yang bisa membentuk cara pandang, mengajarkan rasa empati, dan meningkatkan kesadaran diri. 

Namun, menjadi traveler yang baik bukan hanya tentang menjelajahi dunia, terlebih setelah menghadapi wabah Covid-19 yang mengubah perspektif hidup termasuk saat traveling. Mulai dari menyadari privilege yang dimiliki hingga mendukung bisnis lokal, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi wisatawan yang lebih bertanggung jawab. 

Berikut adalah 8 langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk menjadikan perjalananmu lebih bermakna, baik bagi diri sendiri maupun bagi tempat yang kamu kunjungi. Kamu tidak harus menerapkan semuanya sekaligus, tetapi memulai dengan perlahan.

1. Sadari dan Bersyukur Atas Kelebihan yang Kamu Punya

Bepergian adalah sebuah kemewahan yang tidak semua orang dapat nikmati. Kelebihan ini bisa berupa kesehatan yang memungkinkan kamu bepergian, kemampuan finansial, kemudahan mendapatkan visa juga kemudahan cuti dari kantor. Sadarilah hal ini dan tetaplah rendah hati. Hargai kesempatan kamu traveling dengan bersyukur.

christchurch airport new zealand
Karena naik penerbangan terakhir ke Christchurch, bandara sepi dan bisa buat foto-foto.

2. Patuhi Aturan dan Imbauan yang Ada

Hormati peraturan lokal, baik aturan hukum tempat yang kamu kunjungi maupun norma sosialnya. Jangan melanggar aturan hanya demi mendapatkan foto keren di media sosial. Patuhi batasan di tempat wisata alam, berjalanlah di jalur yang sudah ditentukan. Banyak kecelakaan terjadi karena orang mengabaikan peringatan demi foto yang Instagrammable.

Papan peringatan saat traveling ke New Zealand

3. Lebih Ramah Lingkungan Sebisa Mungkin

Perjalanan memiliki dampak besar terhadap lingkungan, terutama jika bepergian dengan pesawat. Namun, bukan berarti kamu harus berhenti bepergian. Cobalah untuk mengurangi jejak karbon dengan tindakan sederhana, seperti membawa tumbler, menggunakan tas belanja yang reusable, memilih transportasi umum saat memungkinkan, atau memilih makanan dengan bungkus yang mudah terurai. Setiap langkah kecil memiliki dampak besar jika dilakukan konsisten.

4. Berhati-hati dalam Interaksi dengan Hewan

Industri pariwisata sering mengeksploitasi hewan demi kepentingan wisatawan. Misalnya, gajah yang digunakan untuk ditunggangi manusia dalam pariwisata seringkali disiksa selama bertahun-tahun, jadi sebaiknya kamu tidak menggunakan jasa ini.

Juga hindari berfoto di samping hewan yang biasanya berbahaya seperti singa, harimau, dan beruang, tak jarang binatang-binatang ini dibius agar bisa dijadikan objek foto dan tidak membahayakan pengunjung. Daripada mendukung pembiusan itu secara tidak langsung dengan membuat laris sesi foto dengan binatang buas, lebih baik tidak sama sekali…

Jika ingin melihat hewan, pilihlah tempat konservasi yang benar-benar berkomitmen untuk melindungi hewan-hewan tersebut. Kunjungan kamu ke tempat ini juga sekaligus wisata edukasi untuk kamu dan keluarga.

Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sebuah taman nasional perlindungan gajah yang terletak di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur

5. Pelajari Sejarah dan Budaya dari Perspektif Lokal

Tak jarang informasi yang ada di buku sejarah memiliki perbedaan dengan apa yang dipahami oleh orang lokal. Misalnya, dalam perspektif Belanda, Jan Pieterszoon Coen secara historis dipandang sebagai tokoh penting dalam ekspansi VOC, yang sering dianggap sebagai pahlawan yang mendirikan Batavia (sekarang Jakarta) sebagai pusat perdagangan utama di Hindia Timur.

Tetapi sudut pandang kepahlawanan JP Coen itu bertolak belakang dengan apa yang terjadi di wilayah Indonesia yang pernah didatanginya. Misalnya metode brutal yang digunakannya untuk mengamankan dominasi Belanda, termasuk pembantaian dan perbudakan terhadap penduduk asli di Kepulauan Banda. 

Saat berada di rumah keturunan Pieter van den Broecke di Banda Neira

Kamu bisa mempelajari sejarah dengan bertanya dengan penduduk lokal atau datang ke perpustakaan setempat, misalnya mencari tahu bagaimana dampak Perang Dunia II (PD II) terhadap Korea selama pendudukan Jepang, kemudian mengapa begitu Jepang kalah PD II, Korea tidak langsung merdeka hingga alasan mengapa akhirnya Korea Utara menjadi negara komunis dan Korea Selatan menjadi negara kapitalis.

Ketika kamu belajar untuk melihat sejarah suatu wilayah, kamu bisa memahami negara tersebut dengan lebih jelas. Traveling pun jadi lebih lengkap, tidak hanya kuliner, wisata alam atau mencoba pakaian tradisional saja.

6. Dukung Bisnis Lokal

Setiap uang yang kamu belanjakan saat bepergian memiliki dampak besar. Alih-alih menghabiskan uang di restoran ternama atau atau mall, belanjalah di pasar lokal dan makan di warung atau restoran milik penduduk setempat. Selain mendukung ekonomi lokal, kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang lebih autentik.

Laksa Tangerang yang disantap di Taman Laksa, Tangerang
Laksa Tangerang yang disantap di Taman Laksa, Tangerang

Selain itu, berinteraksi dengan pemilik restoran atau pramusaji yang merupakan penduduk lokal di tempat kamu makan juga bisa menjadi pengalaman seru.

Jangan lupa untuk membeli barang dari pengrajin lokal, selain membantu menyejahterakan mereka, tentunya harga yang ditawarkan lebih murah ketimbang di mall. Jika menawar harga, tawarlah dengan harga yang wajar, atau mintalah harga pas.

Memaksa harga turun serendah-rendahnya dengan ngotot –sampai pura-pura pergi dan lain-lain– hingga tawaran harga yang hampir ‘tinggal ampas’ dari harga modal sang pedagang bukan hanya tidak etis. Jika sang pedagang menyetujui harga tawaran kita tapi dengan terpaksa (misalnya karena butuh pemasukan hari itu), maka hakikatnya sama saja dengan kita memakan uang riba dari transaksi tersebut (kita dalam posisi kuat untuk memaksa, sementara dia dalam posisi terpaksa menyetujui, namun tidak ridha).

Pasar iInpres Kebun Sayur, sentra oleh-oleh murah meriah berkualitas di Balikpapan.
Belanja oleh-oleh di Pasar Inpres Kebun Sayur, sentra oleh-oleh murah meriah berkualitas di Balikpapan.

7. Tidak Menghakimi Cara Orang Bepergian

Setelah traveling, biasanya seseorang akan menceritakan pengalamannya saat bepergian, termasuk juga tips-tipsnya. Jika kemudian teman yang kamu bagikan kisah perjalanan kamu berangkat ke tempat yang sama tetapi tidak mengikuti saran yang kamu sampaikan, jangan lantas mengkritiknya.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki keterbatasan dan alasan sendiri dalam cara mereka bepergian. Misalnya, dia memiliki alergi tertentu, ia takut alerginya kumat karena tidak tahu bahan yang dimasukkan ke dalam makanan, sehingga dia memilih makan di restoran internasional, ketimbang makan makanan lokal di warung kecil.

Istirahat di rest area di pinggir tol Mekah-Madinah
Istirahat menuju Madinah, melipir di rest area. Sambil makan martabak kari, minumnya Teh Pucuk (yep, di sana ada Teh Pucuk)

8. Terapkan Nilai-Nilai Positif di Kehidupan Sehari-hari

Menjadi traveler yang baik tidak hanya berlaku saat kamu bepergian. Terapkan nilai-nilai seperti menghargai perbedaan, peduli terhadap lingkungan, dan bersikap terbuka terhadap budaya lain dalam kehidupan sehari-hari. 

Mulailah dengan langkah kecil, dan jadikan setiap perjalanan sebagai kesempatan untuk tumbuh, belajar, serta menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan berhenti hanya sebagai traveler yang baik, tetapi lanjutkanlah manusia yang lebih baik.

Nah, selain delapan langkah di atas, menurut kamu apa lagi yang perlu diterapkan? Yuk share di kolom komentar…***