masjid-rest-area-makkah-madinah-ransel-saya

Umrah Saya; Ibadah dan Masuk UGD

Siapa yang ingin sakit? tentu tidak ada. Apalagi jika sedang melakukan ibadah umrah atau ibadah haji, inginnya sehat terus supaya ibadahnya lancar.

Tapi, bagaimana jika diberi rejeki sakit saat berada di tanah suci? Baca dulu ya kisah umrah saya dari awal.

Saat ibu melepas kepergian saya di Soekarno-Hatta, hati saya sempat sedih sekali karena sebetulnya ingin berangkat bareng ibu. Dan Allah sungguh Maha Penghibur, dengan mudahnya Dia memberikan pengganti ibu disana.

Allah mendudukkan saya disamping Bu Entin pada saat keberangkatan dari Soekarno-Hatta. Saya melihat raut kebingungan terlihat di wajah beliau yang ternyata karena beliau baru kali itu naik pesawat dan jauh dari tanah kelahiran. Memasangkan sabuk pengaman, menjelaskan fungsi-fungsi fasilitas pesawat yang ada disekitar tempat duduk, hingga menemani ke toilet menjadi tugas awal yang saya lakukan seperti layaknya anak kepada orang tua yang saya lakukan sepanjang perjalanan umrah. Allah memberi saya pengganti orang tua saya disini, tunai.

Servis dari Saudi Airlines memang tidak diragukan lagi. Mau nonton ada, makan diberikan beberapa jam sekali, mau lihat “dunia luar” dengan kamera cctv juga bisa, mau istirahat apalagi… bantal selimut dipinjamkan, diberikan penutup mata, sikat gigi plus odol serta kaus kaki. Bahkan free koneksi internet selama beberapa saat (saya lupa seberapa besar kuotanya, namun itu cukup untuk keperluan saya memberi kabar kepada orang rumah).

Beberapa saat sebelum memasuki waktu subuh, pilot Saudia memberi pengumuman bahwa pesawat sudah memasuki wilayah Yalamlam. Itulah saatnya kami melakukan miqat, di ketinggian 27.000 kaki diatas permukaan laut. Para wanita sudah mempersiapkan miqat sebelum pesawat tinggal landas dengan memakai pakaian ihram, sehingga di pesawat hanya tinggal melafadzkan bacaan niat saja. Berbeda dengan para pria yang pada umumnya baru mengganti pakaiannya dengan pakaian ihram di pesawat.

Setibanya di Jeddah, saya dan rombongan langsung menaiki bis menuju Makkah. Berbeda dengan jalur kebanyakan yang berangkat ke Madinah terlebih dahulu sebelum ke Makkah, penyelenggara umrah saya memutuskan berangkat ke Makkah terlebih dahulu.

Keputusan itu pas adanya, karena saat datang itu Masjidil Haram sangat lengang, seakan dijamu privat, Alhamdulillah.

Ada kalanya saya tergiur untuk menyentuh Ka’bah karena kondisi lengang itu. Bukan hanya menyentuh, nemplok pun bisa!! namun mengingat urutan wajib umrah belum selesai saya merelakan sambil tetap berdo’a mudah-mudahan masih lengang dan masih punya tenaga saat saya menyelesaikan wajib umrah karena sesekali saya sudah terbatuk-batuk akibat tubuh yang tidak “compatibel” dengan perubahan cuaca yang ekstrim antara Indonesia dan Arab Saudi.

Potong rambut adalah penanda berakhirnya urutan wajib umrah. Sejenak saya kembali ke hotel yang hanya berjarak 500 meter. Sementara sahabat sekamar saya beristirahat, saya berangkat ke Masjidil Haram untuk thawaf sunnah, “nemplok ka’bah”, shalat dua rakaat di Hijr Ismail plus sunnah memegang Hajar Aswad. Semua serba seperti sekejap mata saja, tunai, tanpa diusik sama sekali oleh siapapun dan oleh apapun termasuk batuk saya. Sepintas sulit dipercaya, tapi begitulah bagaimana Allah membuat saya terkesima dan memberikan pemahaman bahwa melepas kesempatan untuk melipir ke Ka’bah saat masih menjalankan urutan wajib umrah bukan berarti Allah menutup kesempatan yang sama disaat yang lain dengan kelegaan yang lebih besar. “Yang penting Aku dulu”, mungkin itu kira-kira pesan-Nya.

Faedah Fidyah

Saat menjalani umrah kedua saya di Makkah, ada satu kesalahan yang saya perbuat: mencuci tangan dengan sabun beraroma harum dan baru sadar persis saat menggosok-gosokkan busa sabun di telapak dan punggung tangan.. “Babay 10 real”, ujar saya saat menitipkan pembayaran fidyah ke Mas Gito, Team Leader umrah saya saat di Makkah.

Merasa dicolek keras juga sih, mengingat bahwa sebetulnya keteledoran saya dalam hidup tuh nggak cuma sekedar cuci tangan dengan sabun beraroma harum.

Memilih Mobily

Saat masih di tanah air, entah mengapa pembelian paket umrah selalu saja gagal hingga akhirnya saya memutuskan membeli paket komunikasi provider Arab Saudi saja agar saya bisa fokus packing. Dan sekali lagi sungguh Allah memudahkan setelah berkali-kali gagal membeli paket telekomunikasi umrah di dalam negeri.

Membeli dan mengaktifkan paket komunikasi Mobily lebih mudah dari mengaktifkan paket umrah provider tanah air. lokasi gerai Mobily hanya melipir sedikit dari Masjidil Haram, Petugas Mobily hanya scan QR code yang ada di name tag umrah saya saja. cring! selesai dengan biaya kurang lebih sama dengan provider tanah air.

Dengan menggunakan provider setempat, saya pun tidak mengalami gangguan koneksi sama sekali, berbeda dengan teman-teman satu grup umrah yang membeli paket di tanah air. Saat berada di tanah suci, mereka mendapatkan kesulitan memperoleh jaringan hingga sempat sulit menghubungi satu sama lain. Jangankan menelpon, berkirim WhatsApp dan SMS pun tidak bisa.

Pada akhirnya mereka instal VPN dan mengkoneksikan VPN dengan smartphone sebagai jalan keluarnya meski dibayangi ingatan adanya kasus-kasus pencurian data pribadi melalui aplikasi VPN yang di unduh.

Oh, Bon Apotik

Nah satu cerita lagi malam itu adalah bon apotik epic banget mahalnya. Bukan obat batuknya yang mahal, tapi food suplement yang disertakan.

Kalau ada diantara kamu yang batuk atau sakit apapun di Saudi Arabia saat ibadah haji atau umrah, sebetulnya bisa menggunakan fasilitas rumah sakit yang disediakan gratis oleh pemerintah Arab Saudi bagi semua jamaah haji dan umrah. Namun, berhubung jarak rumah sakit lumayan jauh dan harus keluar ongkos saya memutuskan untuk membeli obat bebas saja.

Saking bebasnya, si petugas toko obat juga menyarankan membeli food suplement (nggak bilang food suplement, cuma bilang: “If you get cough, you drink this syrup and this capsule”) karena kondisi tubuh yang cukup lelah karena batuk terus menerus, teledorlah saya terlebih karena si penjual bergerak dengan sangat cepat, ambil-jelaskan kilat-scan bayar…

Saat di Madinah, saya menemukan toko yang sama, dan saat melipir untuk berteduh di dekat toko di dekat toko itu, semua pembeli ditawari food suplement jenis tersebut dengan cara yang sama: ambil-jelaskan kilat-scan bayar, yang tidak “terkecoh” hanya beberapa jamaah yang kecepatannya lebih dari si penjual, hihihi…

Sebagai catatan, sirup obat batuknya oke… mengandung Cistus Incanus kering, tanaman obat untuk berbagai masalah kesehatan, terutama infeksi influenza dan penyakit pernapasan. Tambahan lainnya adalah obat ini bebas gula dan alkohol, tanpa pewarna buatan, hanya tahan 24 bulan sejak dibuka dan memiliki rasa madu. Cocok dikonsumsi oleh penyintas diabetes dan alergi.

Penuh di Haram

Saya dan teman-teman sekamar memutuskan untuk itikaf di Masjidil Haram pada malam Jum’at, dan ternyata banyak sekali kaum wanita yang melakukan hal yang sama beserta suami dan anak-anak yang masih kecil. Membangun bonding dengan Allah sejak dini dengan bersilahturahmi dengan Allah di malam-Nya, di rumah-Nya, begitu pikir saya.

Hari Jum’at memang hari libur para pekerja. Bagi penduduk Makkah dan para pendatang yang bekerja di Makkah, Jum’at adalah hari libur mingguan, sehungga banyak yang memanfaatkan waktu tersebut untuk melaksanakan umrah. Jadilah Masjidil Haram penuh sejak malam Jum’at.

  • kabah-ransel-saya

Jika pada hari-hari pertama saya di Makkah mengalami saat-saat lengang Masjidil Haram, menjelang hari terakhir sebelum bertolak ke Madinah saya mengalami saat-saat Masjidil Haram sangat penuh (dimata saya) thawaf tidak lagi cukup di pelataran Ka’bah, melainkan sampai ke lantai dua Masjidil Haram.

Jum’at itu pula hari dimana saya ikut shalat Jum’at di Masjidil Haram sekaligus merasakan Masjidil Haram yang sepenuh-penuhnya serta packing bersiap berangkat ke Madinah. Ada haru yang sulit terlukiskan saat thawaf wada’, wudhu’ terakhir dan shalat terakhir di Masjidil Haram.

Melangkah ke Madinah

Sabtu pagi saya bersama grup umrah berangkat ke Madinah, dalam perjalanan kami menyempatkan diri beristirahat sejenak di rest area.

Dibandingkan di tanah air yang rest area-nya penuh dengan beragam makanan, di rest area antara Makkah dan Madinah jauh lebih simpel, mungkin karena bukan musim haji ya… hanya ada satu penjual kurma dan madu yang cukup fasih berbahasa Indonesia dengan logat Arabnya yang kental, satu gerai makanan sejenis martabak telur dengan rasa kari yang dahsyat, satu gerai kopi serta satu mini market (yang juga menjual produk Indonesia seperti pop mie dan teh pucuk).

  • rest-area-makkah-madinah-ransel-saya

Perjalanan Makkah ke Madinah memakan waktu sekitar 8 jam dengan bis. Sepanjang jalan saya memandang gurun dan membayangkan bagaimana dahulu Rasulullah hijrah bersama para sahabat. Tekad yang ukurannya adalah iman.

Sesampainya di Madinah, saya dan sahabat-sahabat satu grup sempat kebingungan karena salah satu anggota grup umrah yang agak sepuh bernama ibu Suanah tidak ada bersama kami, sekitar setengah jam kali mencari. Ternyata beliau sedang berada di sebuah restaurant, berdiri dengan wajah panik. Dengan langkah bergegas, Ibu Khair sahabat sekamar saya mendekati beliau dan ternyata Ibu Suanah mencari toilet karena kebelet pipis.

Malamnya, Ibu Suanah demam tinggi. Selidik punya selidik selain ternyata beliau sudah batuk sejak di Makkah, sepanjang perjalanan panjang dari Makkah ke Madinah beliau tidak makan dan minum sama sekali karena menahan pipis dan tidak mau merepotkan orang lain karena mengeluh ingin pipis padahal rest area sudah lewat. Dan akibat tidak terasupinya tubuh beliau dengan makanan dan minuman apapun dan tidak minum obat, tubuh beliau yang sepuh jatuh sakit.

Kesulitan yang kemudian kami hadapi adalah membujuk Ibu Suanah untuk makan dan minum. Entah mengapa beliau mengatupkan bibirnya begitu kuat saat kami menawarkan minum. Beliau hanya mau tidur saja. Akhirnya bujukan itu berhasil saat disebutkan air zam-zam. Meski hanya berhasil memberikan beliau dengan meneteskan sedikit-sedikit kedalam mulutnya, kami cukup bersyukur bahwa beliau sudah mau mengasupi tubuhnya.

Raudhah Al-Mustafa

Jadwal pagi hari pertama di Madinah adalah ke Raudhah Al-Mustafa setelah shalat subuh di Masjid Nabawi, tempat suci kedua setelah Masjidil Haram.

Dahulu Raudhah terletak di luar halaman Masjid Nabawi, yaitu di antara rumah Rasulullah SAW dan mimbar di Masjid Nabawi. Namun setelah Masjid Nabawi diperluas, kini raudhah terletah di dalam masjid. Tempat yang disebut Rasulullah sebagai taman surga hanya ukurannya hanya 22×15 meter, namun tidak pernah sepi dari pengunjung.

Berhubung hendak ke taman surga, saya bela-belain beli gamis yang cukup feminin untuk ukuran saya yang tomboy. Tetapi pada kenyataannya disana tetap saja saya pakai rompi berkantung banyak yang biasa saya pakai untuk kegiatan outdoor. Bedanya, kali ini isinya buku tuntunan umroh, obat-obatan dan air zam-zam.

Penggunaan rompi itu ternyata sangat berguna karena disana saya mengamit lengan Bu Entin dan Bu Ambardi agar tidak terpisah dalam rombongan. Tak terbayang repotnya kalau memakai tas kecil, tersangkut-sangkut karena berdesakan dengan tamu Rasulullah yang lain.

Hotel tempat saya menginap hanya sekitar 15 menit berjalan kaki (tanpa melipir belanja). Seselesainya dari raudhah, saya kembali kembali ke hotel sambil menemani Bu Khair dan Bu Ambardi melihat oleh-oleh buat para cucu mereka di tanah air. Sementara saya dan Bu Entin hanya cenderung melihat-lihat saja saat itu, karena berpikir untuk berbelanja pada esok hari saja.

Setibanya kami di hotel, kami kembali ke kamar Bu Suanah. Kondisi beliau masih sama saja, kemudian saya bertanya kepada Mas Rofik, team leader grup umroh kami di Madinah apakah sebaiknya Bu Suanah dirujuk ke rumah sakit saja. Sejurus setelah saya mengatakan hal tersebut, terdengar suara terjatuh, dan ternyata Bu Suanah terjatuh karena ia berusaha turun dari kasur menuju toilet. Bu Suanah sudah tidak bertenaga hingga kami membopongnya ke toilet.

Mas Rofik sempat blank karena panik, hingga lupa harus menghubungi nomor mana hingga kemudian saya menyarankannya untuk bertanya kepada resepsionis hotel.

Saat di resepsionis hotel, Mas Rofik bertemu salah seorang penduduk Madinah yang sedang duduk di lobby hotel, pria tersebut membantu Mas Rofik untuk menelpon ambulans.

Beruntung, Bu Ninik salah satu dari jama’ah umroh di grup kami membawa kursi roda yang sedianya hendak digunakan untuk sang ibu jika sewaktu-waktu beliau lelah saat umrah. Bu Ninik meminjamkan kursi rodanya untuk mobilisasi Bu Suanah dari kamar hotel menuju ambulans. Bu Ninik juga memberikan diapers dewasa untuk Bu Suanah.

Petugas berbaju biru yang menjemput kami berparas tionghoa, refleks kami mencoba berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, kemudian ia merespon “I’m Philiphines”. Dalam grup saat itu hanya saya yang bisa berbahasa inggris, sehingga petugas ambulans itu meminta saya ikut ke rumah sakit. Jadilah yang menemani Bu Suanah itu bertiga, Mas Rofik selaku team leader, saya dan Bu Khair.

Mungkin karena saya menggunakan rompi, para petugas UGD selalu memanggil saya jika membutuhkan sesuatu, mulai dari mendaftarkan pasien, membujuk, memapah, dan menggantikan pakaian. Tambahan pengetahuan berharga untuk saya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Harus Masuk Rumah Sakit di Tanah Suci

Pertama yang harus dilakukan adalah membawa pasport asli. Karena pasport itu adalah jaminan pelayanan gratis dari Pemerintah Arab Saudi bagi jamaah umrah dan haji. Tidak perlu mengisi formulir apapun, hanya menyerahkan paspor saja. Jika pun ditanya, hanya ditanya ejaan nama ayah kandung karena belum tentu nama ayah kandung tercantum di paspor. Biasanya ditulis di selembar stiker yang ditempel pada paspor yang terkadang tidak jelas tulisannya karena ditulis tangan.

Di rumah sakit biasanya hanya disediakan air minum gratis, namun tidak ada kantin sehingga para pendamping pasien harus mencari gerai makanan diluar rumah sakit. Beruntung ada gerai kopi yang juga menjual donat di depan gedung rumah sakit. Untuk minuman bisa memilih, latte, cappuccino, teh, atau air mineral. Sedangkan makanannya hanya tersedia donat bergula. Cukup saja sebetulnya, yang penting perut terisi. Begitu pikir saya.

Oiya, UGD di rumah sakit juga dipisahkan berdasarkan gender, hal ini untuk kenyamanan pasien jika petugas medis perlu membuka pakaian pasien. Begitu pula antrian farmasi, lagi-lagi demi kenyamanan.

Sebagai pendamping si sakit, bersiap untuk banyak hal. Hal pertama, pasti akan ditanyai kronologis mengapa pasien bisa sakit.

Dalam kasus Bu Suanah, dokter UGD kebingungan mengapa beliau tidak mau makan dan minum, tensi turun. Dokter bertanya semakin menyelidik saat melihat beliau menggunakan diapers, karena umumnya yang menggunakan diapers adalah pasien diabetes.
Pantas jika sang dokter menyelidik, karena tugasnya adalah menganalisa sebaik-baiknya agar bisa memberikan obat yang sesuai. Setelah puas dengan jawaban saya, dokter kemudian memberikan infus kepada Bu Suanah dan saya diminta menunggu diluar.

Saya, Bu Khair dan Mas Rofik menunggu dengan terkantuk, tiba-tiba seorang petugas medis memanggil saya dengan nada risau, meminta tolong untuk memberi pengertian kepada Bu Suanah. Saya dan Bu Khair bingung pada awalnya, hal apa yang harus kami jelaskan kepada Bu Suanah. Setelah melihat Bu Suanah, jelaslah bahwa kami harus membujuk dan memberikan pengertian karena beliau melepas paksa infusnya hingga jarum infusnya bengkok dan darah beliau sempat keluar beberapa saat. Beliau tidak ingin di infus. Hal ini tidak terjadi satu kali, hingga saya dipanggil berkali-kali oleh petugas medik dengan nada gusar.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Bu Suanah tidak hanya merespon dengan tatapan mata seperti sebelumnya, tetapi juga dengan anggukan dan suara yang pelan. Alhamdulillah.

Saat Bu Suanah sudah cukup memiliki tenaga karena sudah diberikan cairan melalui infus, saya diminta mengantarkan Bu Suanah ke ruang rontgen. Suster mendampingi saya menunjukkan arah ruang rontgen.

Dengan ramah perugas medik mengarahkan saya dan Bu Suanah bagaimana posisi yang benar untuk foto thorax. Dua kali foto harus diulang, hal ini karena ternyata Bu Suanah menggunakan kaus dalam yang berkantung dan bersleting. Jadilah pada sesi foto kedua, saya diminta ikut masuk ke ruang petugas medik, agar lebih leluasa bolak-balik ruang rontgen jika foto harus diulang ketiga kalinya.

Setelah rontgen, saya dan Bu Suanah kembali ke UGD, dan dokter kembali memasang infus. Kantong ketiga kalau saya tidak salah ingat.

Menjelang Isya’, saya kembali dipanggil oleh sang dokter, kali ini untuk memberikan semua hasil analisa: rekam jantung, hasil radiometer, dan yang lainnya. Semua hasil memperlihatkan bahwa Bu Suanah baik-baik saja dan diperbolehkan pulang…. yes!!

Hari Terakhir di Madinah

Di hari-hari terakhir di Madinah, saya menyempatkan diri berkeliling sendirian di sekitar hotel sebelum bergabung dengan teman-teman satu grup untuk berbelanja oleh-oleh.

Di Madinah tersedia tourist bus, sayangnya saya tau saat bis itu melintas sehingga tidak sempat ikut, lagipula belum sempat juga ijin ke team leader, mudah-mudahan lain kali saya ke Madinah bisa mencicipi bis ini.

Saat berbelanja bersama teman-teman satu grup tur ke salah satu tempat yang tampak seperti ITC kalau di Jakarta. Di tempat itu harga oleh-oleh cenderung lebih murah dan lebih beragam. Selain kacang arab, kismis dan kurma yang berbentuk manisan, ada pula selai kurma-kacang, powder seeds pollen (yang konon bisa untuk pasangan yang belum memiliki anak), kurma ajwa dan bijinya dalam bentuk bubuk yang mengandung asam oleat, serat makanan dan polifenol untuk mengurangi kadar trigliserida dan kolesterol (LDL) dalam darah.

Sebagian besar oleh-oleh yang saya beli adalah oleh-oleh yang ringan seperti bubuk kurma, bumbu kering dan suvenir. Kurma hanya beli sedikit mengingat koper sudah hampir mentok sampai batas berat maksimal.

Meskipun ada anggapan bahwa “Ah, nggak apa-apa, toh pasti ada jamaah lain yang bagasinya nggak sampe mentok ke berat maksimal, khan ini dihitung berat gabungan per grup bukan perorang”.

Ya dari sudut itu nggak salah juga, hanya saja saya tidak mau menggunakan yang bukan jatah saya meskipun orang lain belum tentu pakai atau tidak tau kalau ada bagian berat bagasinya dipakai. Lagipula, siapa tau dia mau menggunakan sampai batas maksimal. Menjaga saja sih supaya nggak ada hal yang merepotkan saat di airport nanti.

Jelajah Jeddah

Tadinya saya sempat berpikir untuk belanja di lokasi perbelanjaan hits di Jeddah, namun karena terlalu ramai dengan penjual yang agak memaksakan produk yang dijualnya, saya ilfil. Dan ternyata Nabila dan keluarganya pun merasakan hal yang sama hingga pada akhirnya kami berpikir untuk kembali ke bis.

Saat tiba di lokasi tempat bis menurunkan kami tadi, ternyata bis sudah tidak ada disana. Akhirnya sambil menunggu jawaban dari Mas Rofik mengenai lokasi bis di parkir, kami duduk-duduk di pinggir jalan. Tiba-tiba, ada seorang pria berperawakan melayu menghampiri kami. Dia berbicara dengan bahasa tagalog sepertinya, kami tidak mengerti hingga dengan gesturenya dia mengatakan untuk tidak berada disana karena di tempat itu sering ada jambret motor. Wah, bahaya juga!! kebetulan salah seorang anggota grup mengabari supaya lebih baik menunggu di salah satu warung bakso disana. yap betul!! disana ada bakso wonogiri. Ini mah nunggu sambil makan, hehehe….

Waspadalah Waspadalah..

Betul, dimanapun tetap harus waspada meskipun berada di tempat ibadah, karena tidak semua orang berniat dan melakukan hal yang baik.

Saat di Makkah, saya sempat didatangi oleh seorang wanita memakai burqa, awalnya seperti meminta sumbangan, akan tetapi kemudian wanita itu sangat mepet-mepet ke saya. Saya belum ‘ngeh saat itu namun saya tidak merasa nyaman, hingga saya berjalan cepat untuk menghindarinya. Dan beberapa saat kemudian saya menyadari bahwa jam tangan saya hampir terlepas dari pergelangan tangan saya. Alhamdulillah, jam ini masih rejeki saya.

Kemudian saat di Madinah, saya dan Ibu Khair sempat melihat tabrak lari yang terjadi di depan hotel. Setelah menabrak seorang wanita, mobil yang menabrak itu melaju sekencang-kencangnya. Sekejap kemudian datang mobil ambulans dan petugas kepolisian.

Melepas Lelah di Airport Jeddah

Ah, setelah menemani mereka yang belanja akhirnya sampai juga di King Abdulaziz International Airport, Jeddah.

Pemeriksaan imigrasi disini sama ketatnya dengan saat kedatangan. Dengan sistem screening dan pendataan yang lebih banyak daripada umumnya. scan jari tangan kanan-kiri, foto wajah, scan barang bawaan. Dan karena saat pulang itu sudah lebih padat dengan pengunjung, maka antrian pun lebih panjang.

Saya sempat berpindah antrian gara-gara sidik jari saya tidak terdeteksi, begitu pula dengan Bu Entin. Alhamdulillah petugas imigrasi King Abdulaziz International Airport ramah dalam melayani kami.

Oiya, harus tetap mengutamakan kesabaran jika ada jamaah lain yang nyelak antrian, selak lagi di depan orang itu boleh sih menurut saya, tapi tetap harus elegan… hihihi.. dan tetap ngga pakai kesal. Sebetulnya kalau hal itu terlihat oleh petugas, yang nyelak pasti ditegur keras. Jadi siap-siap saja terima resiko kena tegur kalau mata petugas justru melihat kamu yang lagi nyelak balik.

Kejadian menyelak antrian terjadi kepada saya saat di bandara Jeddah. Yang nyelak hanya satu sih, tapi dia bawa sekompi teman-temannya… Jadilah saya selak balik, sambil senyam senyum ngeliatin ibu itu.

Hal selak menyelak antrian adalah hal minor, selebihnya bandara ini adalah bandara yang cukup nyaman. Buktinya, saya terlelap beberapa jam di kursi bandara yang memang di disain khusus agar kaki bisa selonjoran dan sandaran punggung lebih landai.

Tips Nyaman Ibadah

Dari sekian banyak tips ibadah yang ada di internet, berikut tambahan tips dari saya:

  1. Utamakan sabar. Meskipun ada kalanya harus berselisih paham dengan jamaah lain, rasa kesal jangan sampai masuk ke hati. Rugi.
  2. Perhatikan sekitar. Seperti yang tadi saya paparkan, ngga semua yang berada di tempat ibadah itu murni untuk ibadah. Tetaplah waspada. Selain itu, memperhatikan sekitar sangat penting agar tidak tersasar.
  3. Perhatikan gesture, karena kendala bahasa bisa jadi kita tidak paham apa yang dibicarakan seseorang. Perhatikan maksud orang yang berbicara dengan memperhatikan gesture. Satu kali saya cuek dengan sebuah teriakan peringatan karena saya tidak mengerti, akibatnya, saya disemprot dengan selang air. Hihihi… disitu saya baru sadar maksud si mbak-mbak bercadar, bahwa ia dan timnya hendak membersihkan ruang wudhu.
  4. Jika ikut tur jangan sungkan meminta sesuatu yang dibutuhkan, jangan sampai hal yang terjadi pada Bu Suanah terjadi pada kamu. Kalau mau pipis saat di perjalanan jauh, bilang saja. Teman satu grup yang nggak kita kenal pun akan segera menjadi dekat saat plesir jauh, apalagi untuk ibadah.
  5. Bawa pakaian secukupnya. Disana satu stel pakaian cukup untuk satu hari mengingat kelembaban udara sangat rendah sehingga kita tidak berkeringat, namun tambahkan satu stel pakaian lengkap untuk jaga-jaga. Saya skip disini kemarin, bawa pakaian benar-benar secukupnya tanpa memikirkan hal yang mungkin terjadi. Pada kenyataannya, saya membutuhkan pakaian ganti tambahan setelah mengurus Bu Suanah di UGD dan bolak balik ke toilet, sempat juga terkena air seni beliau. Solusi waktu itu adalah dengan membeli pakaian baru. Hehehe…
  6. Rompi itu kudu. Ketimbang membawa tas selempang atau tas pinggang lebih baik memakai rompi. Muat banyak. Hanya saja untuk para pria tidak bisa menggunakan rompi saat masih menjalankan rukun umroh/haji karena syariat berpakaian.
  7. Membawa perlengkapan pendukung yang memadai. Pengalaman saya sih, ini kira-kira benda-benda pendukung saat traveling:

Saya memang batal pergi ke beberapa tempat bersejarah saat di Madinah karena mendampingi Bu Suanah, akan tetapi umroh saya ini bersejarah dan dengan senang hati saya ceritakan. Semoga Allah memperbolehkan saya berkunjung lagi di lain waktu.

Selamat merancang perjalanan ibadah kamu ya, semoga diberikan ibadah yang mabrur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.