Ruwahan, Tradisi Jawa dalam Menyambut Ramadhan

Tidak bisa dibantah bahwa Indonesia memiliki beragam tradisi, ribuan. Salah satu diantara tradisi yang ada adalah tradisi menyambut Ramadhan.

Sebutlah tradisi ruwahan di Jawa yang dirayakan pada sebelum pertengahan bulan Ruwah atau kalau dalam kalender Hijriyah, mendekati pertengahan bulan Sya’ban

Tradisi ruwahan ini melibatkan beberapa aktifitas, seperti ziarah kubur (yang juga disebut ‘nyadran’). Tradisi ini memiliki perbedaan antara beberapa wilayah Jawa.

Di sebagian wilayah Jawa, nyadran atau sadranan diikuti dengan menyelubungi kijing dengan kain putih, biasanya disebut kemul putih. Tapi nyadran pada umumnya adalah ziarah ke kubur para leluhur disertai membersihkan area kubur dan mendoakan leluhur.

Selain nyadran, dilakukan pula berbagi penganan khas ruwahan kepada masyarakat sekitar, yaitu kolak, kue apem, dan ketan. Ada yang merayakannya secara kecil-kecilan, ada juga yang merayakannya dengan membuat acara khusus yang cukup besar yang disebut Kenduri Apem.

Penganan yang dipilih bukan asal saja, ada makna yang terselip dari setiap penganan.

Kolak adalah simbol mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (Kholaqo), Sedangkan ketan (kraketan) yang bertekstur lengket menjadi simbol eratnya tali silaturahmi antar masyarakat. Lain lagi dengan kue apem yang konon berasal dari kata afwan, apem dalam ruwahan memiliki makna ungkapan saling memaafkan jika terjadi kesalahan.

Dulu, untuk dibagikan kepada anak-anak, diselipkan uang koin 5 rupiah di dalam kue apemnya. Jaman itu, 5 rupiah biasa disebut “limanggelo”.

Ruwahan dilakukan beberapa hari sebelum tanggal 15 bulan Ruwah dan pada tanggal 15-nya (yang jatuh tepat pada tanggal 15 Sya’ban) masyarakat Jawa biasanya berpuasa.

Puasa ini biasa disebut Megengan. Megengan ini juga dimaksudkan sebagai persiapan mental sebelum berpuasa Bulan Ramadhan.

Tetapi lambat laun tradisi Megengan ditinggalkan, terutama di perkotaan. Meskipun begitu, di lingkungan pedesaan Megengan masih rutin dijalankan setiap tahun, sehari atau beberapa hari jelang Ramadhan. kendati dalam satu keluarga tidak seluruhnya berpuasa.

Tradisi Jawa memang banyak mengimplementasikan syariat Islam. Dalam hal ini, tradisi Megengan merupakan salah satu tradisi khas, yang bisa jadi tidak ada di tempat lain.

Megengan diikuti dengan dengan perayaan penyambutan Ramadhan yang meriah. Antusiasme ini masyarakat tercermin dari tradisi takbir keliling dan tabuh bedug bertalu.

Foto: Pakuan Pos

Selain takbir keliling dan tabuh bedug, masyarakat (terutama anak kecil) juga biasa membunyikan mercon (meriam) bumbung, dan pawai obor. Saya ingat sekali cerita ayah saya waktu beliau mempersiapkan meriam bumbung (bambu) bersama teman-temannya. “Seru” Ujar beliau.

3 pemikiran pada “Ruwahan, Tradisi Jawa dalam Menyambut Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.