Wisata Kuliner dan Masa Depan Ikan

Dimasa kini, dimana jalan-jalan bukan hanya menikmati pemandangan tetapi juga menikmati makanan tentunya membuat banyak restoran menjamur dimana-mana termasuk restoran yang menyediakan seafood.

Bahkan hingga jauh kedepan, culinary travel atau wisata kuliner akan tetap hits meski terjadi pembatasan karena adanya wabah Covid-19 yang belum juga selesai.

Wisata kuliner seafood bukan hanya dinikmati karena rasanya yang enak, tetapi juga adanya kandungan gizi pada ikan yang mampu mengasupi tubuh dan memerangi malnutrisi. Itu mengapa pemerintah menggiatkan masyarakat untuk memakan hidangan laut.

Namun, fakta bahwa mengkonsumsi ikan baik untuk kesehatan bukan berarti membuat kita bisa seenaknya mengkonsumsi ikan tanpa mempertimbangkan keberlangsungan ikan dalam ekosistemnya.

Mayoritas ikan laut yang terhidang diatas meja makan ditangkap dari habitatnya, penangkapannya pun tanpa memikirkan keberlangsungan perkembangbiakannya di alam bebas.

Tidak hanya menangkap ikan dewasa, tapi juga ikan-ikan yang “belum cukup umur”. Padahal tidak semua makhluk laut ini berkembang biak dengan cepat. Lobster dan kerapu merupakan beberapa jenis makhluk laut yang lambat berkembang biak di lautan

Over-fishing bahkan bukan hanya menangkap ikan-ikan dewasa tetapi juga ikan-ikan kecil. Banyak juvenil udang yang tertangkap pukat sehingga populasi udang semakin menurun akibat kurangnya regenerasi dan hanya sedikit juvenil kerapu yang mampu bertahan hidup dan menjadi dewasa di alam akibat banyaknya predator termasuk manusia. Bahkan untuk jenis Kerapu Bebek, pengambilannya telah dilakukan sejak ukuran jari (fingerling) untuk ikan hias.

Tidak heran jika kemudian nelayan banyak mengeluhkan sedikitnya tangkapan mereka dari hari ke hari. Inilah mengapa kita perlu mengevaluasi kembali sumber persoalan dari penurunan jumlah komoditi tangkapan laut.

Penangkapan itupun menjadi lebih melewati batas saat hendak menangkap ikan-ikan yang hidup diantara karang seperti kakap, kerapu, baronang, ekor kuning, kambing-kambing dan butane yang seringkali ditangkap dengan bahan peledak tanpa memperdulikan hancurnya terumbu karang yang baru dapat pulih kembali berpuluh-puluh tahun mendatang.

Kemudian pembuatan tambak udang dengan menebang hutan bakau (mangrove) serta menggunakan bahan kimia yang buangannya dapat merusak ekosistem sekitarnya. Tanpa pohon bakau, garis pantai akan erosi dan tempat perkembangbiakan alami ikan akan hilang, regenerasi ikan pun terhapus.

Masalah menjadi bertambah dikala pengelolaan air limbah bisa dibilang nyaris tidak ada. Limbah yang dihasilkan dari mayoritas tambak  sebagian besar dibuang begitu saja tanpa pengolahan. Limbah ini lah yang menurunkan kualitas lingkungan dan memunculkan berbagai penyakit. Ini termasuk penggunaan metode pengembangbiakan akuakultur membutuhkan perawatan kimia untuk menjamin panen yang sukses. Jumlah bahan kimia aktif yang dilepaskan ke lingkungan akan berpengaruh kepada organisme lain yang hidup di laut. Adanya rantai makanan kemudian menjadikan bahan kimia tersebut ikut masuk ke tubuh manusia sehingga menyebabkan adanya dampak kesehatan kepada manusia.

Ekosistem laut bukan hanya tanggung jawab nelayan, tapi juga tanggung jawab kita yang mengkonsumsi

Nelayan tidak bisa serta-merta dituding menjadi satu-satunya biang keladi dari semua persoalan tersebut. Karena jika dilihat secara keseluruhan, konsumen termasuk para wisatawan kuliner pun memiliki andil terhadap apa yang mereka tangkap.

Semua ini tidak terlepas dari hukum permintaan dan penawaran yang terjadi antara produsen dan konsumen.

Yang dapat dilakukan oleh kita sebagai konsumen saat ini adalah terus memperbaharui pengetahuan mengenai tangkapan laut yang dikonsumsi beserta gizinya.

Sebagai contoh, Sup hisit yang bergengsi karena mahal dan langka ternyata hampir tidak memiliki gizi. Sehingga gengsi yang ada pada sup hisit justru tidak sebanding dibandingkan gizi yang didapat.

Hal inilah yang seharusnya menjadi salah satu alasan konsumen dan para wisatawan kuliner memilih hidangan laut. Sebagai konsumen, kita seharusnya mengurangi konsumsi tangkapan laut yang memerlukan regenerasi lebih lambat, seperti hiu, abalon, ketam kelapa, lumba-lumba, kerapu, lobster, udang karang, pari, napoleon, penyu, telur penyu, hiu, paus, mola-mola, triton, kerang kima, tuna sirip biru.

Selain itu, jangan hanya berpatokan pada satu jenis ikan sebagai sumber asupan vitamin dan mineral tertentu karena banyak ikan lain yang memiliki hal yang sama. Seperti salmon sebagai asupan omega-3, yang bisa digantikan dengan rainbow trout yang diternakkan.

Jika kemudian merasa ribet untuk mencari tahu, sudah banyak pemerhati lingkungan laut yang dengan senang hati membagikan ilmunya, Jika hendak memilih ikan untuk dimasak, bisa baca disini. Jika ingin mengunduh pdf-nya, bisa unduh disini. All for free.

Dengan memilih dengan hati-hati hidangan laut (seafood) yang kita nikmati, memahami lebih jauh bagaimana pengelolaan perikanan dilakukan, kita telah berkontribusi dalam melestarikan laut untuk masa depan. Kalau sudah demikian, yakin kita mampu menghadirkan ikan di meja makan hingga jauh hari kedepan.

===

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.