Berangkat Ngelayap ke Cilacap

Hari Rabu kemarin itu tiba-tiba Galuh kirim WhatsApp: “Mi, weekend ini gue mau ke Cilacap, mau ikut nggak? berangkat Jumat Malem besok.”

Wah, pucuk di penat kepala, liburan tiba…pikir saya. Kemudian karena saya sedang bertugas menjadi fasilitator training, Galuh yang cari tiket… Tiket kereta sudah penuh padahal masih belum mendekati weekend, pilihan lainnya adalah bis dan travel alias minibus.

Dragon Jaya Express

Untuk berangkat, kami milih travel Dragon Jaya Express, kami pilih itu karena pool nya terletak di Bendungan Hilir, buat saya mudah karena dari rumah saya bisa naik Commuterline ke St. Palmerah kemudian lanjut naik Grab. Dan buat Galuh, dia bisa naik Commuterline sampai Stasiun Karet kemudian lanjut Gojek.

“Mi, mampir makan Mie Aceh dulu ya, di Sorong gak ada” tulis Galuh mengabari saya melalui WhatsApp. Bendungan Hilir memang surganya makanan enak, dulu saya sempat kos di daerah ini, hafal makanan enak di sebelah mana aja… hahahaha..

Kami menuju pool Dragon Jaya Express sekitar pukul 19.00, menunggu jam keberangkatan sekaligus numpang shalat Isya’. Jangan bingung seperti saya yah saat mencari-cari pool Dragon Jaya Express, papan namanya kecil nyaris terlewatkan. Pokoknya kalau mau ke pool ini, patokannya adalah Circle K Jalan Danau Toba Bendungan Hilir dan rumah makan kecil disampingnya, pool berada di seberang rumah makan.

Nah tuh, papan namanya nyempil disebelah kiri

Kendaraan yang digunakan untuk berangkat ke Cilacap adalah Mitsubishi L-300. Ada hal unik yang saya alami dengan menggunakan jasa Dragon Jaya Express; penumpang tidak hanya menunggu di pool seperti saya dan Galuh, namun juga bisa dijemput dirumah dan diantar sampai depan rumah alias door to door, sehingga jangan ditanya ‘kira-kira sampai pool di Cilacap jam berapa’ karena bisa molor banget akibat jasa door to door ini. Jadi layanan Dragon Jaya Express ini memang khusus bagi yang santuy abhess…

Ku duduk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya…

Salah satu benda yang masuk list packing saya

Galuh emang tipe yang nempel molor, termasuk kali itu… mungkin juga imbas capek perjalanan Sorong – Jakarta. Sementara mata saya kebanyakan melek… kuatir tepar, saya menyempatkan diri minum Herbadrink Sari Temulawak yang sudah saya persiapkan dari rumah.

Temulawak adalah salah satu rempah andalan masyarakat Indonesia sejak jaman raja-raja karena khasiatnya menjaga imunitas tubuh.

Sepanjang yang saya ketahui, imunitas tubuh itu erat kaitannya dengan kesehatan hati dan pencernaan. Temulawak dapat menjaga keduanya, dengan kandungan antioksidan bernama kurkumin yang terkandung didalamnya.

Kurkumin ini unik, ia adalah antioksidan kuat yang dapat menetralkan radikal bebas dengan struktur kimia yang dimilikinya ( C21H20O6 ), selain itu kurkumin juga meningkatkan aktivitas enzim antioksidan yang ada didalam tubuh. Dengan cara itu, kurkumin memberi “dua tamparan” terhadap radikal bebas: memblokir secara langsung, dan merangsang tubuh dalam memproduksi antioksidan.

Kurkumin juga adalah senyawa anti-inflamasi, sehingga tidak heran jika dengan mengkonsumsi kurkumin maka radang sendi dan radang otot dapat teratasi.

Itu baru kurkumin ya, belum kandungan temulawak yang lain yang pastinya memiliki khasiat yang tak kalah hebatnya.

Sambil mensyukuri kurkumin dan teman-temannya yang ada pada Herbadrink Sari Temulawak, saya celingukan ingin tahu sudah sampai mana sebenarnya perjalanan saya kali itu, tidak lama kemudian pak supir memarkir mobil di salah satu rumah makan padang, “Istirahat dulu, setengah jam lagi lanjut perjalanan.” ujarnya.

Waktu istirahat itu saya pergunakan untuk meluruskan sendi-sendi dengan shalat tahajud, musola yang dimiliki rumah makan padang itu lumayan juga, kira-kira cukup untuk 8 hingga 10 orang shalat jamaah.

Barisan emak-emak berangkat ke pasar

Berhubung travel yang saya tumpangi itu mengantar penumpangnya door to door, yang seharusnya kami sampai tujuan jam 5 pagi, jadi molor hingga jam 8 pagi.

Saya dan Galuh turun di Terminal Cilacap menunggu dijemput oleh Mega dan sepanjang perjalanan menuju Terminal Cilacap, travel saya seringkali berpapasan dengan rombongan emak-emak yang berangkat berjualan ke pasar. Another power of emak-emak.

Batu Raden

Selepas saya dan Galuh beristirahat sebentar di rumah Mega, kami bertiga menyambangi rumah Arif untuk beramai-ramai mengunjungi Batu Raden yang terletak di Kaki Gunung Slamet.

Batu Raden memang banyak menjadi pilihan wisata keluarga bagi masyarakat terutama yang tinggal di Pulau Jawa.

Memiliki tujuh tingkatan pancuran pemandian air hangat yang dipercaya memiki khasiat kesehatan. Semakin jauh menuju pancuran tujuh, semain panas airnya, konon begitu.

Kali itu karena kami berangkat berikut kedua anak Mas Arif dan Mbak Putri, kami hanya sampai pancuran tiga saja. Tapi jangan kuatir mengenai khasiatnya, hangatnya air minimal akan menghilangkan rasa penat tubuh. Saya mengalaminya juga, pas sekali rasa nyeri akibat Psoriasis Arthritis saya kumat di lengan kanan saya. Saya kucurkan saja air hangat itu di tangan saya selama beberapa waktu dan betul saja, perlahan nyeri berkurang hingga hilang sama sekali hari itu.

Alhamdulillah.

Selain suhunya yang hangat, air yang keluar dari pancuran Batu Raden mengandung belerang yang memiliki khasiat mempercantik kulit dan menyembuhkan penyakit kulit sehingga banyak juga yang berdatangan ke tempat ini untuk tujuan rekreasi kesehatan selain untuk rekreasi keluarga.

Oiya, inget kejadian jembatan Batu Raden yang roboh karena tali penyangganya putus beberapa waktu lalu nggak? Jembatan itu sudah dibangun kembali dengan konstruksi beton, tidak lagi berupa jembatan kayu dan kawat seperti sebelumnya.

Dengan wajah barunya, si jembatan merah ini menjadi salah satu spot foto favorit di karena tidak kalah catchy dengan jembatan yang lama. Beruntung kami kesini saat keadaan sepi, sehingga seperti jembatan milik pribadi, cuma milik kami berenam.

Diatas jembatan yang dulu sempat roboh itu

Asik khaan…