Perjalanan Tak Terlupakan (1)

Hari ini tiga tahun lalu saya Solo Traveling kesekian kalinya ke Jogja.. Momentum kali itu untuk memanfaatkan jeda waktu yang saya punya sebelum kerja di kantor baru.

Jumat itu pagi hingga sore hari sebelum meluncur ke Soekarno-Hatta saya menyempatkan diri untuk meet up dengan teman-teman blogger — termasuk alm. Cumi Lebay — (apa kabar lo disana, mi?), agak salah timing juga sih karena pesan tiket di hari yang sama dengan jadwal meet up manusia-manusia pencerita ini, jadi ketemuannya ngga bisa lamaaaa… Tapi ya emang kalo ketemu, cerita ngga habis-habis, ngalahin kondangan kerajaan 7 hari 7 malam.

Singkat cerita, demi ketemuan bareng manusia-manusia pencerita ini, saya memilih tidak mengambil jadwal penerbangan pagi seperti biasanya, kali itu saya pilih penerbangan saat matahari bergulir ke belahan dunia yang lain… Berangkat ke Soekarno-Hatta mepet waktu..

Enaknya penerbangan sore itu, bisa lihat matahari terbenam diatas pesawat… Tapi berhubung arah pesawat yang saya tumpangi membelakangi matahari terbenam, harus rela pupus harapan memandang eksotiknya matahari yang menjingga di ufuk barat… Tapi, bolehlah dicatat bahwa lain kali pulang dari Yogyakarta ke Jakarta ambil penerbangan sore…

Setibanya saya di Adisucipto, dengan pedenya saya naik Trans Jogja seperti biasanya… Di dalam bis, saya mencoba menelpon homestay tempat saya menginap tanpa mendapatkan respon satu kalipun..

Mulai panik, saya berpikir bahwa saya salah menyimpan nomor telepon… Kembali saya browsing, dan saya teliti digit nomor telepon satu persatu. Saat itu belum semua nomor bisa di klik dari google dan otomatis terhubung melalui selular, termasuk nomor homestay saya kali ini.

“Wah, tidak ada respon juga…” batin saya… Akhirnya saya memutuskan untuk turun dari Trans Jogja di halte terdekat dengan Universitas Gajah Mada, “Bisa lah jalan kaki ke homestay, khan di alamatnya tertulis dekat UGM”, pikir saya saat itu.

Jaman itu memang google map belum serinci dan secepat sekarang aksesnya, setelah nanya GPS manual alias nanya penduduk setempat, ternyata homestay sekitar satu jam kalau jalan kaki. Kalau siang hari sih ngga apa-apa ya, karena se-nyasar-nyasar-nya di jogja masih banyak orang berseliweran… karena kebetulan penduduk setempat yang saya tanyai adalah pengendara becak, saya langsung minta antar ke homestay dan Mas Becak mengiyakan dengan bayaran Rp. 20.000.

Namun ditengah perjalanan Mas Becak ngedumel… jauh, lah… cape, lah… nanjak, lah… berat, lah… Spontan saya jadi mengingat berapa terakhir kali saya menimbang berat badan, hmm… Iya juga sih, berat saya sekitar satu kwintal beras waktu itu.. ๐Ÿ˜œ

Ya pada akhirnya saya memilih turun saja, selain karena keluhan si Mas yang berjilid-jilid, saya juga berpikir mungkin memang sebaiknya jalan kaki saja seperti biasanya kalau melipir ke Yogya… Mas Becak menurunkan saya di depan gang kecil (yang katanya) menuju homestay, saya menyodorkan selembar uang Rp. 20.000 kepada Mas Becak, tapi kembali ia mengeluh, “Ini kurang mbak, harusnya dua puluh lima.. ”

Saya kemudian memberikan Rp. 5.000 tambahannya sembari berseloroh “Kalau memang kesini bukan seharga dua puluh ribu, jangan bilang dua puluh ribu, Mas… Ngga sepatutnya..”.Saya tahu seloroh saya itu akan menimbulkan keluhan berikutnya, tapi saya cuek saja sambil bersenandung dalam hati, “Katakanlaaaah… Katakan sejujurnyaaaa…” ๐ŸŽถ๐ŸŽถ

Saya berjalan kaki memasuki gang kecil itu, sembari melihat ke arah jam tangan yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ujung gang tersebut terpecah dua, kanan menuju pemukiman yang tampak baru dan terlihat mewah, sementara di sebelah kiri terdapat pemukiman penduduk yang kelihatannya sudah bermukim di Yogyakarta sejak berpuluh tahun lalu. Saya memutuskan untuk berbelok ke arah kiri, namun setelah lima menit berjalan, saya curiga salah arah karena jalan semakin lama semakin minim pencahayaan… Hal itu diperkuat saat melihat di depan saya gelap gulita tanpa penerangan, “Wah, bertanya kemana nih?” tanya saya pada diri saya sendiri, saya sangat memaklumi kebiasaan Wong Yogya saat itu, pada jam seperti itu umumnya mereka sudah dirumah, bahkan sudah beristirahat..

Beruntung saat berbalik arah, saya melihat ada seorang pria keluar rumah dengan menuntun motornya, sempat ia melihat ke arah saya sambil memicingkan mata, mungkin karena gelap. Kemudian saya bertanya letak homestay tujuan saya, dan ia menjawab “Ooo, Mbak salah jalan.. Mbak keluar jalan ini saja menuju arah sana (sambil menunjuk ke pertigaan awal tadi), kemudian Mbak belok kiri, lurus terus sampai Mbak ketemu pos satpam, nah itu kompleknya, disana Mbak bisa tanya satpam mengenai lokasi homestay-nya” jawab Mas penuntun motor itu dengan logat jawa yang sekental madu asli.

“Oo begitu, Mas… Terima kasih ya… Kalau jalan ini kemana mas?” tanya saya sembari menunjuk jalan tanpa penerangan tadi, Mas penuntun motor menjawab, “Itu kuburan, Mbak… ”

Daaannnggg… Kemudian jadi berpikir, jangan-jangan tadi si Mas penuntun motor berpikir saya hantu karena muncul dari arah kuburan.. Saya terkekeh dalam hati, menertawai pikiran saya itu sekaligus menertawai kebodohan saya karena agak nekat berjalan di jalan yang minim penerangan.

Setelah kembali berterima kasih, saya berjalan ke bertigaan semula dan berbelok ke kiri sesuai arahan Mas penuntun motor, benar saja, ada pos satpam disana, tidak terlihat dari arah pertigaan karena letaknya setelah turunan dan agak menjorok disebelah kiri jalan.

“Pak, kalau homestay ini dimana ya?” tanya saya kepada Pak Satpam, “Oo, paling ujung, Dik. Adik tunggu saja disana, nanti saya telepon ke penjaga rumahnya.” jawab Pak Satpam sambil menawarkan bantuan.

Saya berjalan kerumah yang ditunjuk, rumah dikunci dan sepi.. Cukup lama saya menunggu hingga sempat akhirnya saya memutuskan duduk selonjor di depan pintu masuk hingga terlihat seorang wanita tergopoh-gopoh berjalan kearah saya, “Mbak, maaf ya, yang jaga rumah baru terkena musibah, saudara dekatnya meninggal dunia tadi sore, beliau baru menyadari Mbak telepon berkali-kali saat mengangkat telepon dari Pak Satpam… ” jelasnya.

Wah iya, wajar juga tadi saya telepon tidak direspon, batin saya..

Si Mbak kemudian membukakan pintu dan menunjukkan kamar saya, ternyata hari itu hanya saya yang menginap, dan si Mbak juga pamit karena dia pun sedang menunggu homestay yang lain, praktis malam itu hanya yang berada di homestay.

Sebenarnya, bisa saja saya tidur di kamar manapun yang saya mau, toh saya hanya sendirian di homestay… Tapi berhubung yang saya sanggupi bayar adalah yang paling murah, jadi saya tetap tidur di kamar yang paling murah, walaupun diperkenankan untuk melihat-lihat kamar yang lebih bagus.

Disini fasilitasnya cukup lengkap, kamar tidur, kamar mandi yang bersih dan nyaman, ada TV didepan meja makan, dan ada dapur kecil juga yang mungkin akan saya gunakan seandainya masih punya tenaga, malam itu…

Saya sempat tertidur di ruang tengah saat menonton tayangan televisi, hingga akhirnya saya terbangun karena belum mengunci pintu depan…

Setelah mengunci pintu dan memastikan jendela tertutup rapat, saya pun terlelap diatas kasur hijau, serasa rumah sendiri ya..

Keesokan harinya, mata saya terbelalak segar saat melihat jarum pendek menunjukkan angka 7, mengingat jadwal jalan hari ini, saya sudah terlambat. “Ah ya sudahlah, tidak ada yang diburu-buru”, pikir saya kemudian..

Pagi itu dimulai dengan mandi sambil bersenandung, packing, menitipkan kunci rumah ke satpam dan kemudian sarapan ketupat sayur disamping halte Trans Jogja.

Sempurna.

Advertisements

One thought on “Perjalanan Tak Terlupakan (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s