Bergelimang harta di ujung Sumatra. Lampung, The Treasure of Sumatra

Ya,  itulah yang saya rasakan setiapkali bertandang ke ujung Pulau Sumatra ini.

Ibarat toserba,  Lampung itu serba ada..

Guci Batu Kapal

Capturing Sunset

Yes, sunset always beautiful, wherever we capture it (photo by: sepri,ig: 53pri)

Pertama kali Lampung,  adalah saat diadakannya Festival Petualang ke empat tahun 2015 silam yang berbarengan dengan Lampung Krakatau Festival. Kali itu,  saya dan beberapa teman saya berkemah di Pantai Guci Batu Kapal. Pantai berpasir hitam yang cantik dan tenang, laut berlatar belakang gunung menciptakan sunset yang berbeda dari kebanyakan sunset di pantai.

Sangat salah jika hanya berpikir bahwa sunset adalah lakon utama disini,  saat saya masuk ke laut,  saya cukup kaget karena saya menginjak koral hanya lima langkah dari pantai. Terbayang koral yang subur,  langsung terbayang banyaknya ikan,  sehingga kami memutuskan untuk snorkling, sembari spear fishing.

Ikan yang didapat menjadi santapan malam kami,  dibakar dengan bumbu kecap dan cabe rawit.

Milkyway

It doesn’t need any effort to see the milkyway (Photo by Danis Kurnia, ig: daniskurnia)

Api unggun,  debur ombak dan langit bertabur bintang menjadi penutup hari kami. Apalah artinya tidur di hotel bintang lima jika dapat tidur dibawah ribuan bintang.

Pahawang

Tidak lama berselang,  saya kembali mendapat ajakan ke Lampung,  kali ini ke Pahawang.

Berangkat selepas kerja menuju Pelabuhan Merak,  menaiki kapal feri ditengah malam dan kemudian lanjut dengan mobil elf.

Tidak mau membuang waktu,  sesampainya di tepi pantai, saya dan teman-teman langsung berangkat ke snorkling point.

free-dive.jpg.jpeg

Koral yang subur dan jarak yang pendek tidak menyulitkan saya untuk melihat para warga dunia neptunus.

Diantara rimbunnya bulu babi dan crown of thorns,  saya berpapasan dengan ikan badut yang sedang pasang status siaga satu karena menjaga telur-telurnya.

white-sands.jpg.jpeg

Snorkling bukan satu-satunya kegiatan saya bersama teman-teman saya kali itu, kami juga mampir untuk makan siang ke Pulau Kelagian Lunik,  pantai berpasir putih dan halus seperti tepung terigu dengan hutan bakau yang rimbun.

Kenyang makan siang,  kami kembali melaut,  berjemur tepatnya.

c360_2016-05-29-23-20-49-645.jpg

Diantara semua kesenangan itu,  terbetik rasa penasaran saya, ingin tau rasanya menyetir perahu motor.. Gayung bersambut,  saya diperbolehkan menyetir perahu motor saat pulang kembali. Sebagai pemula,  lumayan lah..  Anggap saja belajar buat nyetir speedboat pribadi suatu saat nanti..  😄

C360_2016-05-29-23-51-28-726

Gigi Hiu

Meluncur lebih jauh, saya dan teman-teman berangkat ke arah Kiluan,  bukan ke Kiluan,  tapi menuju ke Gigi Hiu.

Menuju Gigi Hiu sama sekali tidak mudah meskipun dengan menggunakan motor. Jalan berbatu,  licin, dan berkontur tanah liat membuat motor beberapa kali terpeleset dan terjatuh.

Namun sesampainya di Gigi Hiu, rasa lelah mengarungi perjalanan tadi mendadak hilang tak berbekas. Deretan batu runcing yang menjulang kokoh di tepian Samudera Hindia berpadu dengan suara ombak yang berlari dan kemudian pecah menghempas batu menjadi rasa yang tiada duanya bagi mata dan telinga.

Lampung dengan gelimang pesonanya,  membuat siapapun yang hendak pulang,  membuat rencana untuk kembali bahkan sebelum kaki melangkah naik ke kapal menjauhi Bakauheni.

Seperti saya,  belum juga sampai di Bakauheni,  jemari sudah kembali berselancar di http:\\www.lampungkrakataufest.com lokasi pundi-pundi informasi Lampung berada.

banner FLK

 

Advertisements

14 thoughts on “Bergelimang harta di ujung Sumatra. Lampung, The Treasure of Sumatra

  1. Aku diajakin juga tuh FPN tahun kemarin.. jadi panitia tapi, ikut rombongan SIOUX.. Tapi aku gak jadi pergi… di Lampung ternyata banyak tempat keren ya, Tam.. Jadi pengen balik lagi dan lagi nih.. apalagi udah ada direct flight Batam-Lampung, hahahaha….

    Like

  2. Waktu Festival petualang Nusantara tahun lalu aku juga daftar. Kan kita barengan ya waktu itu mau daftar. Tapi aku batal berangkat karena diijinkan suamku. Akhirnya bisa datang pas tur Krakataunya saja.

    Lampung keren ya Tami. Ga ngebosenin buat didatangi. Kapan jalan bareng lagi ke Lampung? 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s