Visit Kanekes Tribe

When I need to refresh my mind, I read my friend’s post about Kanekes Tribe… So, pack my bag and go.

Kanekes or Baduy is a traditional or a tribe which still hold their culture and practice like their ancestors. If you living in Jakarta, Kanekes is quite easy to reach,

Located in Kendeng Mountain, Lebak Regency, Banten. 7 Hours (more or less) from Jakarta… 2 hours by Train (Rangkas Jaya Train) from Tanah Abang Station to Rangkas Bitung Station, then 2 hours by van to Ciboleger, and by walk to Cibeo village, one among three purest Kanekes Tribe (another two are, Cikertawana and Cikeusik). Between Ciboleger and Cibeo, we will pass some Baduy Luar Villages (or or the Outside Circle), Kanekes’ tribe which already receive and practice modern culture beside practice their ancestors’ culture.

I go with my 6 friends, we start from Tanah Abang Station at 8.00 am and reached Ciboleger at 1.30 pm, then, we get inside the jungle at 2 pm by walk, the track is up and down about 8km… so, don’t forget your mineral water and prepare yourself for 3-4 hours cardio!!

We’re lucky because the weather is good with 34⁰ Celcius… the track is dry and not slippery. Before we get to Cibeo Village, we passed some Baduy Luar Villages, Gajeboh is one of them. They live by farming and selling handmades (like woven fabric and souvenirs). The women wove the fabric at their terrace, beside their finished handmade.

And my curiosity came, I walked around the houses, and find that they already split their garbage… most of Jakartans not do this yet!!

Along the road, we guided by Cibeo Villagers, Sumiatin and his son, Sariman. It’s very easy to recognize Kanekes Pure Tribe (or they also called Baduy Dalam Tribe—The Inner Circle or The Sacred Tribe), they have strict rules; always wear white ‘hat’, and white or black cotton clothes, they never wear shoes or sandals, and always walk (as transportation mode is strictly forbid).

And because of that taboos, they have good metabolism, and strong feet (with extraordinary ‘soles’; extreme slip resistance, weather proof… 😀 )

I’m amazed when Mr Sumiatin climb a bamboo stick only by his toes!, he ‘hooked’ his toes into the bamboo holes… 😮

The area of Baduy Luar and Baduy Dalam separated by a river, and as we across the bridge, we should obey Baduy Dalam’s rules; No technology, no soap, no shampoo, no smoking, no drink alcohol.

We arrived at Cibeo around 5pm, and this time we stayed at Sumiatin’s house. Sumiatin serve palm sugar and water with coconut shell as the plate and bamboo as the glass.

Their houses are stage house, made from bamboo and palm fiber. They build this with axe, cleaver and skills, as they forbid using saw, nails and hammer…

Another taboo beside all I have said above is school… Kanekes’ are forbid to take formal school or classes. For them, educations are farming, learning about plants and its function, harvesting honey from beehive and learning angklung.

Angklung played by team and played only in ‘music house’, the angklung is a bit different by size from usual angklung. Sariman hold an angklung as high as him.

Night in Cibeo is very calm, and quiet with light rain… we definitely have a very good sleep…

At the other day, we wake up in the morning and start to get back to Ciboleger. This time we choose different path; through root bridge (a bridge created by plaited roots from the trees which grow beside the river). This path is not as steep as the previous one; slightly slope, more farther from Ciboleger but more beautiful.

And because of the rain last night, the path is wet and slippery, sometimes I rather slide than walk.. 😀

We arrived at the finish point at 1 pm. The van picked us up and drives us to Rangkas Bitung Station to catch our train at 3 pm, back to reality…

TIPS:

  • When in Rome, do as Romans do; they have many taboos, better ask about their rules and obey.
  • Unfortunately, Baduy Dalam only allows Indonesian to visit them, so if you’re not Indonesian, you can stay at Baduy Luar Villages.
  • Baduy Dalam has their sacred months (about 4 months). During this period, their villages are closed for visitor.
  • DO NOT LITTER, bring your own trash bag to put your garbage into it. It is very shameful when I saw visitors litter everywhere, and then a 5 years Kanekes’ kid put all the garbage and put them into the trash bag.
  • Simplify your bag; you do not need soap, shampoo and mosquito repellent in Baduy Dalam, you only need spongebath (they allow this for us).
  • Don’t forget to bring water, you will need this as the path is about 8-9km. if you choose root bridge path, you will saw some springs, you can drink the water. But if you choose Ciboleger path, there’s no springs along the way.
  • If you want to buy souvenirs (key chain, woven fabric, root plaited bag, root plaited bracelet, pure honey, etc) better buy it with Kanekes’ Pure Tribe, cheaper.
  • Don’t forget to have fun.

Ciboleger to Root Bridge: http://www.wikiloc.com/wikiloc/view.do?id=3339380

Map Note: need some effort to find the right map, because somehow there’s some name used for several things (like road name, river name, etc) but I guarantee, this is the right one.

———————

Spontan, pas sedang perlu  penyegaran otak, pas lihat postingan teman mengenai Suku Adat Kanekes… Langsung, pack my bag and go.

Kanekes atau Baduy adalah suku adat yang masih memegang teguh budaya mereka mengikuti ajaran leluhur. Jika kamu tinggal di Jakarta, sebenarnya mudah saja datang kesana…

Lokasinya di kaki Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Dari Jakarta 7 Jam Kurang Lebih; 2 Jam dengan Kereta (Kereta Rangkas Jaya) dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rangkas Bitung, Lanjut dengan sewa mobil elf atau angkutan kota selama 2 jam menuju Ciboleger, terakhir dengan berjalan kaki menuju Desa Cibeo, Salah satu suku paling asli diantara tiga suku asli lainnya (yakni, Cikertawana dan Cikeusik). Antara Ciboleger dan Cibeo, kita akan melewati beberapa Desa Baduy Luar, yakni Suku Adat Kanekes yang sudah menerima dan mempraktekkan budaya dari luar Suku Kanekes, selain tetap menjalankan adat leluhur.

Kami berangkat bertujuh, dari Stasiun Tanah Abang pukul 8 pagi dan tiba di Ciboleger pukul 1.30 siang, kemudian, kami memasuki hutan pukul 2 siang dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang naik turun sekitar 8km… jadi, jangan lupa bawa air minum dan bersiap untuk olahraga kardio untuk 3-4 jam!!

Kami beruntung karena hari itu cerah dengan suhu sekitar 34° Celcius , sehingga jalan setapak yang kami lalui kering dan tidak licin. Salah satu Desa Baduy Luar yang kami lewati adalah Desa Gajeboh. Mereka hidup dengan bertani dan menjual hastakarya seperti gantungan kunci dan tenun, para wanita biasanya menenun dengan alat tenun bukan mesin di teras rumah, bersebelahan dengan hasil karya mereka.

Rasa ingin tahu saya muncul, saya berkeliling dan menemukan bahwa setiap rumah sudah mempraktekkan pemisahan jenis sampah, sesuatu yang bahkan jarang dilakukan oleh masyarakat Jakarta, saya merasa kalah set!

Sepanjang perjalanan, kami dipandu oleh penduduk Desa Cibeo, Kang Sumiatin dan anak laki-lakinya bernama Sariman. Sangat mudah untuk mengenali penduduk Suku Baduy Dalam, mereka memiliki aturan yang ketat; mereka selalu memakai ikat kepala putih, baju katun berwarna putih atau hitam, tidak memakai alas kaki dan selalu berjalan kaki kemanapun (karena bagi mereka, alas kaki dan moda transportasi adalah teknologi, dan mereka dilarang menggunakan teknologi dalam bentuk apapun).

Dan karena keharusan berjalan kaki, mereka memiliki metabolisme dan kaki yang kuat, dengan telapak yang ‘luar biasa’; extreme slip resistance, weather proof… 😀

Saya terkesima saat melihat Kang Sumiatin memanjat sebatang bambu hanya dengan mengaitkan jempol kakinya kedalam lubang-lubang disepanjang batang bambu.. 😮

Area Baduy Luar and Baduy Dalam dipisahkan oleh sungai, dan begitu kami melewati sungai tersebut, kami wajib mematuhi aturan Baduy Dalam; tanpa teknologi, tanpa memakai sabun, shampoo dan sejenisnya, tidak merokok dan tidak meminum minuman beralkohol.

Kami tiba di Desa Cibeo sekitar pukul 5 sore, dan kami menginap dirumah Kang Sumiatin. Sebagai tuan rumah, Kang Sumiatin menyajikan gula aren dan air yang langsung diambil dari mata air, dengan batok kelapa sebagai piring dan bambu sebagai gelas… suatu sajian yang lumrah dihidangkan disana.

Rumah adat Suku Baduy Dalam dibangun berbentuk panggung diatas tanah yang dibiarkan apa adanya. Materialnya hanya bambu dan ijuk dan alatnya hanya kapak, parang dan keterampilan (mereka dilarang menggunakan alat-alat ‘modern’ seperti gergaji, paku dan palu).

Hal tabu lain adalah sekolah… penduduk Suku Baduy Dalam dilarang untuk mengikuti sekolah atau kelas formal lainnya. Bagi mereka, belajar adalah bagaimana bertani, mempelajari tumbuhan hutan dan kegunaannya, bagaimana memanen madu dan bermain angklung.

Angklung dimainkan bersama-sama dalam sebuah rumah khusus, angklung yang mereka mainkan sedikit berbeda dari yang ada di Saung Udjo, angklung disini besar sekali. Sariman memainkan angklung setinggi dirinya.

Malam di Cibeo tenang sekali, ditemani cahaya lilin dan hujan gerimis, ngga heran kami tidur nyenyak sekali…

Hari berikutnya, kami bangun pagi dan bergegas kembali ke Ciboleger, kali ini kami melalui jalan yang berbeda; melalui jembatan akar. Jalan setapak ini landai, namun lebih jauh… tapiii, pemandangannya lebih menakjubkan…

Karena semalam hujan gerimis, jalan yang kami lalui cukup licin, hingga beberapa kali saya memilih seluncur di jalan yang menurun daripada meresikokan diri terpeleset… sakitnya gak seberapa, malunya ngga kira-kira… 😀

Kami tiba di lokasi penjemputan sekitar pukul 1 siang. Kami dijemput dengan angkutan kota yang kami sewa kemarin. Angkutan kota mengantar kami menuju Stasiun Rangkas Bitung mengejar keberangkatan kereta Rangkas Jaya pukul 3 sore menuju realitas…

TIPS:

  • Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung; Suku Baduy Dalam memiliki banyak pantangan, lebih baik bertanya dan patuh dengan adat setempat, anggap saja sekalian meresapi bagaimana keseharian mereka…
  • Suku Baduy Dalam hanya menerima tamu warga negara Indonesia, sehingga warga negara asing hanya dapat menginap di Desa Adat Baduy Luar saja.
  • Baduy Dalam memiliki bulan sakral, sekitar 4 bulan. Selama periode itu, Baduy Dalam terlarang untuk dikunjungi.
  • JANGAN NYAMPAH!!, bawalah plastik sampah untuk sampahmu sendiri dan kemudian buanglah ditempat sampah yang disediakan. Sangat memalukan melihat tamu yang berkunjung membuang sampah sembarangan kemudian sampah tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke tempat sampah oleh anak Suku Baduy Dalam yang berumur 5 tahun!!.
  • Buat ranselmu seringkas mungkin; tidak perlu membawa sabun, shampoo dan sejenisnya karena dilarang untuk digunakan. Dan tidak perlu membawa anti nyamuk, karena disana sama sekali tidak ada nyamuk.
  • Jangan lupa membawa air minum yang cukup, 600ml atau lebih. Jika melalui jalur jembatan akar, ada beberapa mata air yang akan ditemui, airnya jernih dan dapat langsung diminum… Jika melalui jalur pintu masuk Ciboleger (Patung selamat datang di Ciboleger), tidak ada mata air sepanjang jalan hingga tiba di Desa Cibeo.
  • Jika ingin membeli souvenir, lebih baik membeli ke Suku Baduy Dalam, lebih murah. Mereka menjual gantungan kunci, gelang akar, tas akar dan tenun.
  • Jangan lupa bersenang-senang!!

Peta: http://www.wikiloc.com/wikiloc/view.do?id=3339380

Catatan Peta: butuh beberapa waktu untuk mencara peta yang tepat, karena satu nama dipakai di beberapa titik (nama jalan, nama sungai, dll) tapi dijamin, peta yang saya sajikan ini akurat.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

7 thoughts on “Visit Kanekes Tribe

  1. Hi, could u advise on how easy it is to get a guide/homestay when we get to Ciboleger? Can you share roughly the cost of guide +homestay? Thanks

    Like

    1. Hi Erin, sorry for late reply..
      The trip cost me around 500.000 (include souvenir & porter)
      The cost is depend what you need..
      Main cost are:
      * Transportation oneway: IDR 40.000 for train tickets/person and around 50.000 to 100.000 for minivan (share cost)
      * I went there with trip arranger, they cost me IDR 165.000

      And optional cost:
      * porter, this porter always also your local guide and your host, they will not mention how much the cost (for them, this is impolite), but most of visitors gave them around 100.000 to 200.000.
      * souvenir: price depends. I was bought 100% honey for IDR 100.000

      If you visit with trip arranger, homestay fee will be paid by them, IDR 165.000 is include my homestay.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s